Senin, 05 Maret 2012

Telfon pagi ini....

Pagi masi terasa sangat awal ketika aku lihat jam masih menunjukkan pukul 08.30. Belum ada niatan dan konsentrasi untuk kerja secara penuh hari ini, tapi si bos uda aja ngasi kerjaan yg sifatnya "urgent" dan harus selesai dalam sejam.

Huff, kenapa ya akhir-akhir ini si ibu bos suka banget minta report yang byasanya bisa dikerjakan dengan penuh khidmat tapi sekarang kaya di kejar setan. 

Saat aku sedang terburu-buru membuat reportanku, telfon kantorku berbunyi

"Bu, ada telfon dari pak michael" ucap operatorku

" ok" ucapku

" Tumben banget kamu nelfon pagi-pagi" ucapku dengan nada yang aku coba agar terdengar penuh semangat pagi.

" enggak, aku cuma mau nanya tentang sms kamu kemarin" balasnya datar

"yang mana?" 

"yang kamu bilang bagi waktu itu"

"ooh, itu. Iya aku cuma pengen negasin aja sih kalau kamu memang membagi waktuk dengan pacar pertamamu"

"iya tapi kan ga musti sms juga bilang gitu"

"lah, kan kamu sebelumnya sempet bilang kalau itu bukan waktu. inget ga? tapi sekarang kalau kenyataannya memang bagi waktu ya akui saja. telan mentah-mentah"

"ya, tapi ga harus sms juga kan"

"hey, aku di sini yang kamu minta mengerti, dan aku sedang mencoba mengerti, makanya aku bertanya. kalau aku tidak boleh bertanya akan sesuatu yang tidak jelas. trus bagaimana aku bisa mengerti? aku tidak bisa membaca fikiran orang, aku bukan dukun yaa" jawabku, berharap dia mengerti walaupun jadi terkesan seperti jadi bawel dan gak boleh ngalah.

"mau mu sebenarnya apa sih?"

" apa perlu aku kasi tau lagi mauku apa. apa yang kurang jelas buatku selalu bertanya mauku apa?"

"iya, tapi kan sekarang aku belum bisa..."

"belum bisa dan tidak berbuat apa-apa itu pengertiannya sangat berbeda ya"

" kalau kaya gini terus, mending aku deket sama kamu lagi setelah..."

"setelah apa? setelah kamu gak sama dia lagi? yang aku mengerti malah, kamu ingin berjalan bersama dia dengan damai tanpa harus memikirkan bagaimana perasaanku. Lakukan aja, lakukan seperti yang dulu kamu pernah lakukan, silahkan..." ucapku datar

" aku gak mau nyakitin kamu, ini juga demi kebaikan kamu"

"demi kebaikan aku? tadi kan sudah aku bilang, yang ada hanya kebaikan buat kamu, bukan buat aku. Dari segi mana buat kebaikan aku? kamu yang meninggalkan aku kok. dan lagi kalau kita pisah lagi, dengan statusmu yang sudah punya pacar maka yang ada kamu berjalan dengan cewe itu dengan tenang, karena kamu ga perlu lagi mikirin perasaanku dan ga yang ada lagi yang merongrong km. Tapi terserah, sudah berulang kali aku mendengar kata itu keluar dari mulutmu, ya sudah akhiri saja. Yang kamu ingin akhiri itu hubungan kita, bukan kamu dan dia"

" bukan itu maksudku.."

"bukan bagaimana? ya sudah ga usah dipaksa, toh ini bukan pertama kalinya kamu mutusin aku"
"aku bukan minta putus, aku capek, mau balik kerja lagi"

"silahkan.."ucapku tanpa mengucapkan apa-apa dan menutup telfon.
Aku benamkan diriku lagi pada pekerjaanku. Berusaha mengingkari hatiku yang mencoba meronta seperti ingin keluar dari tubuhku. Aku menahannya. Menahan rasa yang meledak di dada, menahan air mata yang mencoba mengalih dari pipiku.

Apa yang aku lakukan sekarang sebenarnya, hanya mengumpulkan kekuatan untuk bisa berpisah dengan mu. Tidak ada lagi yang bisa aku percaya dari kamu, semua yang kamu ucapkan ke aku, hanya berakhir menjadi kata-kata manis, dan ketika di telan terasa pahit sekali.

Berulang kali kamu mencoba meyakini aku untuk tetap sabar, sabar untuk nungguin kamu menghabiskan waktumu dengan pacarmu tanpa aku boleh membantah karena kamu akan mengatakan bahwa kondisimu memang telah ada yang punya sejak dekat dengan aku lagi. Kalau kata lainnya, itu kan resikoku. Jadi aku tidak berhak untuk menagih lebih.

Sampai kapanpun aku menunggu, kamu tidak akan pernah meninggalakan dia. Kamu terlalu takut menyakiti dia, jadi lebih memilih menyakiti aku dan lagi-lagi senjata pemungkasmu adalah resikoku. Resiko harus mau di sakiti.

Kamu berhasil membuatku terlihat buruk, sangat buruk bahkan.

Seharusnya kamu sadar, dan benar-benar meninggalkan aku lagi seperti dulu. Kamu memilih dia, bukan aku. Entah apa yang membuatmu tetap membuatku, mencoba meyakinkan aku untuk tetap bersama kamu dan bersabar menunggumu. Kebutuhan fisik semata? Pinjaman materi?.

Kalau memang apa yang kamu ucapkan padaku adalah benar adanya. Seharusnya kamu sudah berusaha dari awal, tapi apa? sampai saat ini bahkan yang ada kamu malah merayunya agar dia tidak marah setiap kali dia ngambek. Rayuan seorang cowo terhadap pacarnya, aku tidak perlu jabarkan seperti apa cowo merayu pacarnya. Dan karena aku mengenalmu dengan baik, aku rasa itu berakhir di tempat tidur.

Aku perlu kamu yang meninggalkan aku, tapi tidak dengan berbelit-belit dan berharap aku mengerti. Bukankah sudah berulang kali aku katakan perpisahan apa yang tidak menyakitkan? semua menyakitkan, terserah memilih dengan cara jujur atau berbohong agar tidak terlalu sakit.

Dan kamu sendiri yang berulang kali minta berpisah dari aku, dan kamu tahu sendiri itu menyakiti aku. Dan kamu lebih memilih menyakiti aku. Dan memilih bersama dia. Apa lagi yang harus aku pertahankan dari hubungan ini? tidak ada. Kamu mencoba membutakan aku dengan mengatakan ini untuk kebaikanku, pada kenyataannya hanya demi kebaikanmu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar