Rabu, 30 November 2011

Tanaman anti nyamuk

Selama ini tumbuhan anti nyamuk yang populer baru lavender. Sebenarnya ada lagi tanaman lain yang bisa menangkal kehadiran nyamuk. Apalagi musim penghujan mulai tiba, saatnya kita waspada dari wabah penyakit demam berdarah, cikungunya, dan penyakit lain yang disebabkan nyamuk.

Bagi kamu yang belum tahu, ini dia 7 tanaman yang bisa digunakan sebagai pengusir nyamuk.

1. Geranium

Nama lainnya Tapak Dara. Tanaman ini mengandung geraniol dan sitronelol yang dapat mengusir nyamuk. Kedua zat yang dimiliki Geranium dapat dengan mudah terbang memenuhi udara. Tanam saja Geranium ke dalam pot atau langsung di tanah. Tempatkan di tempat yang mudah terkena tiupan angin, saat daun-daun Geranium bergesakan, aroma zat yang ada di tanaman ini akan tercium, membuat nyamuk menjauh dari ruangan.

2. Zodia

Tanaman ini asli dari Indonesia berasal dari Papua, dimana orang-orang Papua akan menggosok-gosokkan daun ini sebelum masuk hutan agar terlindung dari serangga terutama nyanuk. Zodia memiliki dua zat yang dapat membuat nyamuk kabur, yaitu Evodiamine dan Rutaecarpine. Untuk merasakan manfaatnya, Zodia bisa ditanam di ruang yang banyak tertiup angin agar aromanya tercium dan mengusir nyamuk.

3. Serai wangi

Serai akrab dikenal sebagai salah satu bumbu dapur, tapi ia memiliki zat Geraniol dan Sitronelal yang tidak disukai nyamuk. Menanam serai cukup mudah, tinggal tempatkan di pekarangan rumah saja.

4. Akar Wangi

Tanaman ini dapat mengeluarkan aroma menyengat yang tidak disukai nyamuk Aedes Aegypti. Tanam akar wangi di pekarangan rumah untuk merasakan manfaatnya.

5. Lavender

Tanaman ini aslinya dari Swiss, dan telah dimanfaatkan sebagai bahan pembuat lotion anti nyamuk. Bunga Lavender yang berwarna ungu memiliki zat Linalool dan Lynalyl acetate yang tidak disukai nyamuk. Tanam Lavender dalam pot atau tanah, untuk merasakan manfaatnya ambil bunganya dan gosok-gosokkan ke kulit.


6. Rosemary

Bunga Rosemary menghasilkan bau seperti aroma minyak kayu putih. Aroma yang tidak disukai oleh nyamuk karena mengacaukan penciumannya. Tanaman ini dapat ditanam ke dalam pot atau tanah. Di dekat jendela. Untuk pemanfaatannya, ambil daunnya yang berbentuk jarum dan digosokkan ke kulit.

7. Kecombrang


Kecombrang, kantan, atau honje (Etlingera eliator; sinonim Nicolaia elatior, Phaeomeria speciosa) adalah sejenis tumbuhan rempah dan merupakan tumbuhan tahunan berbentuk terna yang bunga, buah, serta bijinya dimanfaatkan sebagai bahan sayuran. Bunga ini juga dapat mengusir nyamuk. Nama lainnya adalah kincung (Medan) serta siantan (Malaya). Orang Thai menyebutnya kaalaa, harga tanaman ini cuma 1500/satuannya.

http://www.apakabardunia.com/2011/11/tanaman-anti-nyamuk.html

Pindah agama menurut Hindu

Om Svastyastu
Oleh Bp. I Nengah Aryata
Pindah agama kadang juga disebabkan kurang peduli orang tua terhadap anak gadisnya. Prinsip predana ikut purusa disalah artikan. Jika anak perempuan harus ikut suami walau suami beragama bukan Hindu. Padahal yang dimaksud adat bahwa istri ikut suami adalah bukan agamanya melainkan mengikuti adat yang masih berdasarkan Dharma. Gadis klungkung diambil pria Buleleng maka si gadis harus ikut tata cara yang ada di buleleng.
Hukuman bagi yang meninggalkan Hindu (dharma) antara lain :
1. Setelah Ajal Tiba Atamannya Tidak akan pernah mencapai alam kebahagiaan, kesempurnaan, dan tujuan tertinggi yaitu moksa.
Kata-kata ini tersurat dalam Bhagavadgita XVI.23 :
"Ia yang meninggalkan ajaran-ajaran kitab Suci Veda, ada dibawah pengaruh kama (napsu) tidak akan mencapai kesempurnaan, kebahagiaan dan tujuan tertinggi".
Mantram ini memberikan tuntunan agar kita jangan meninggalkan kitab suci veda hanya karena menuruti nafsu (kama) maka ybs tidak akan selamat.
Bisa jadi orang yang meninggalkan Hindu di dunia ini dia bahagia, tetapi dapat dipastikan kelak Atmannya akan terseret ke lembah Neraka Dalam Bhagavadgita XVI.19 disebutkan juga : 
" Mereka yang kejam membenci Aku, adalah manusia yang paling Hina, yang Aku campakkan tak henti-hentinya penjahat itu ke dalam kandungan raksasa".
Kalau kita renungkan mantram ini menekankan orang yang pindah agama atau keluar dari agama Hindu sama artinya membenci Brahman, sehingga kelak atmannya patut dicampakkan lembah neraka. Itu akibat perbuatannya sendiri seperti tersirat dalam Atharwa veda II.12.6: 
" Perbuatan jahat orang yang berdosa membuat kehidupannya tersiksa"
2. Setelah Ajal Tiba Atmannya akan tenggelam ke lembah Neraka.
Dalam Manawa Dharma sastra VI.35 :
" Kalau ia telah membayar 3 macam hutangnya (Kepada Brahman, leluhur dan orang tua) hendaknya ia menunjukkan pikiran untuk mencapai kebebasan terakhir. Ia yang mengejar kebebasan terakhir ini tanpa menyelesaikan tiga macam hutangnya akan tenggelam ke bawah.
Karena dia sudah meninggalkan agama Hindu berarti dia tidak bisa lagi membayar 3 macam hutangnya (tri Rna) , karena mereka tdk mengakui adanya Tri Rna ini. Sering kita melihat orang yang pindah agama saat orang tuanya meninggal dia memakai pakaian adat, dia melakukan sembahyang Hindu saat orang tuanya di aben, padahal dia sudah bukan hindu.
Keluarga mereka menerima seolah-olah tidak ada beban, demikian pula masyarakat tidak perduli melihat hal tersebut. Kalau dikeluarganya mengerti Hindu tentunya yang pindah agama tersebut tidak akan diperbolehkan menyembah orang tuanya, karena akan menghambat jalannya Atmanorang tua menuju alam Leluhur dan alam para Dewa.
3. Setelah Ajal Tiba Atmanya tidak akan ketemu jalan menuju Swargaloka.
Dalam Bhagavad gita III.35:
" Lebih baik mengerjakan kewajiban sendiri walaupun tiada sempurna daripada dharmanya orang lain yang dilakukan dengan baik, lebih baik mati dalam tugas sendiri daripada dalam tugas orang lain".
Kita sebenarnya telah beragama hindu sejak Atman, Roh dan Jiwa diceptakan Brahman, bukan saat kita dilahirkan, karena kita percaya dengan reinkarnasi / samsara punarbhawa. Berarti sejak Brahman menciptakan kita selama itu pulalah kita telah beragama Hindu. Bisa jadi kita atman telah berusia ribuan tahun, berarti karma wasana sudah melekat juga sejak ribuan tahun.
Kalau seseorang beragama Hindu sejak Atman diciptakan Brahman, lalu pindah ke agama lain, maka karma wasana di agama lain tidak ada artinya, karena dikumpulkan dalam waktu singkat kendati pun dilakukan dengan disiplin dan ketat, sehingga atman akan gentayangan karena tidak tahu tempatnya. Buktinya datang lagi dalam bentuk mimpi minta diaben atau di Hindu kan kembali melalu upacara ngaben.
 
Om śanti śanti śanti Om

Sumber: www.ilushi.blogspot.com

Jangan menjadi orang miskin

Bercermin pada tayangan kejadian di masyarakat, ternyata kita perlu memberikan perhatian pada petunjuk leluhur kita tentang tidak “enak”-nya menjadi orang miskin.

Di dalam bahasa Sanskerta dan juga bahasa Kawi, sebutan untuk miskin adalah daridra. Walaupun katanya indah tetapi ternyata kata itu begitu pahit. Pahit bagi setiap yang melihat dan terutama pahit bagi yang membawanya, bagi yang mengalami daridra itu sendiri.

Oleh karena itulah Catur Purushartha memberikan penegasan kita perlu berusaha mengumpulkan harta. Dari kepentingan itulah selanjutnya kata tujuan akhirnya juga ditunjukkan dengan kata artha itu sendiri. Kata artha berarti harta/uang dan juga berarti tujuan.

Ajaran Hindu tidak menganjurkan orang menjadi atau mengarah ke loba melainkan diajarkan hidup praktis, bahwa kita memang memerlukan uang. Tetapi, pencarian uang seharusnya tidak sampai membuat “cacat” mental-karakter seseorang. Mengingat kepentingan akan harta, akhirnya orang memang menjadikannya sebagai TUJUAN hidup, lalu memperolehnya melalui berbagai cara, cara apa pun. Bahkan di banyak tempat, ternyata kesempatan terbuka lebar untuk kita ambil bagian aktif dalam “pesta pora” pencarian artha tersebut.

Pada awalnya, orang mungkin gugup tanda kutip, malu tapi mau, tetapi, lama kelamaan…, ia akan menjadi terbiasa, sampai akhirnya, tanpa “pesta pora” tersebut, tanpa tanda tangan dan amplop tersebut, akhirnya ia “tidak akan bisa tidur nyenyak”. Ia tidak akan bisa melewatkan hidupnya tanpa harus memasuki permainan tersebut, yang telah mentradisi dan menjadi bagian dari “tujuan hidup”nya.

Nah demi tidak membiarkan diri terhanyut dalam permainan “tanda tangan amplop” tersebut, barangkali kita perlu bercermin dari “centilan” leluhur berikut:

Ika tang daridra, yadyapin prajna tuwi, (tersebut seorang miskin, walaupun ia bijak terpelajar..), tan hinidep juga ikang senujarakenya (maka orang-orang tidak akan pernah bersedia mendengarkan kata-kata/nasihatnya, orang-orang tidak akan “mengerti” apa-apa yang ia sampaikan).

Kami sempat melihat kejadian seorang anak mahasiswa sangat cerdas dan baik. Suatu kali ia mengacungkan tangan dalam suatu rapat/diskusi. Ternyata, ia hanya mengacungkan tangan berkali-kali sampai akhirnya rapat/diskusi ditutup. Ya…, ia mahasiswa miskin. Kasihan …, tidak ada yang bersedia mendengar ia berbicara.

Lebih lanjut disebutkan, yadyapi mangene kaladesha tuwi (walaupun apa-apa yang ia sampaikan sangat sesuai dengan waktu/keadaan dan sesuai pula dengan tempat/tradisi setempat), tetap saja karena ia seorang miskin, tidak ada seorang pun yang bersedia mendengarkannya. Bahkan juga, walupun apa-apa yang ia katakan merupakan kata-kata bijaksana yang memberikan kesejahteraan bagi pendengarnya, (shabda hitawasana tuwi), ternyata orang-orang tidak bersedia mendengarkannya. Alasannya? Orangnya miskin alias daridra.

Begitulah, ajaran Hindu tidak mendukung kemiskinan. Untuk itu, kata artha atau harta/uang, diberikan penekanan sebagai tujuan hidup, dengan didasarkan pada jalan dharma. Umat Hindu dituntun oleh sastranya untuk mencari atau mengumpulkan harta benda/uang dengan mendasarkannya pada jalan kebenaran, kejujuran, jalan yang diberkahi Hyang Parama Kawi. Indah memang, tetapi keadaan dan kesempatan sering membuat orang “tidak bersedia” mengenal jalan indah tersebut.

Pesan adalah: JANGAN MENJADI ORANG MISKIN, SEBAB IA MENJIJIKKAN ORANG SEKITAR....KENTEN KOCAP....

Semoga semua berbahagia...

(Darmayasa)
www.darmayasa-divine-love.com
Dikutif HiYoGa
Karta Vidnyana 07

http://generasihindu.blogspot.com 

Salam kasih, Svastyastu,

Seekor keledai..., dengan tenang bergerak maju membawa barang-barang di punggungnya. Wajahnya sama sekali tanpa ekspresi. Datar...maju dengan tenang...dan tidak memperlihatkan rasa letih...

Begitu pula..., kita tanpa sadar membawa beban berat dalam hidup ...menganggap semua itu hal yang normal dan biasa... dan hal itu kita lakukan penjelmaan demi penjelmaan....dalam berbagai jenis badan...tanpa kita merasa bosannn..dan tidak merasa aneh...bekerja untuk yang kita tidak ketahui...maksud dan tujuannya...

Menurut Tulasi Das, selama kita masih hidup didalam khayalan MAYA, maka dunia ini akan terlihat sangaaaattt indah dan manis. Dan kita berpendapat bahwa bhakti kepada Tuhan YME sama sekali tidak ada artinya. Tidak menarik dan tidak ada gunanya. Walaupun sesungguhnya ia ribuan kali lebih nikmat dan lebih manis dari amerta (nectar).

Sepanjang kita bekerja hal-hal duniawi, tanpa mengerti apakah yang sedang kita lakukan, kerja keras apa yang sedang kita lakukan dengan berbagai pengorbanan dan kebanggaan, maka selama itu kita akan berada dalam seberang batas kemanisan spiritual.

Kapan kita berpaling dari hal-hal duniawi, saat itu kita akan mengerti akan KEBENARAN, dan kemanisan berada atau lelap di jalan bhakti. Karena ia telah mengerti apa yang benar dan apa yang tidak benar. Bagaikan seekor ular, ia hanya dapat melihat kalau ia rela melepaskan kulitnya yang sudah mati dan kering (bhs Bali: mekules).

Untuk mendapatkan intan permata, kita memang perlu mencoba mengerti nilai pecahan kaca dan segera meninggalkannya...manggalam astu...

(Darmayasa)
Dikutif Oleh HiYoGa
Karta Vidnyana

http://generasihindu.blogspot.com 

Kejahatan bisa menang hanya bila orang baik tidak bertindak

Bhagawadgita sloka 16.4 dan seterusnya menyatakan bahwa kejahatan adalah sifat dan prilaku yang bersumber dari pikiran bangga, sombong, tak peduli, amarah, kasar dan bodoh. Mereka tidak mengetahui apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Mereka tidak mengetahui kebenaran, dan
secara sadar atau tidak sadar menghancurkan dunia karena berlindung pada hawa nafsu yang tidak dapat dipuaskan, terlena dalam rasa sombong dan kemashuran yang palsu, selalu bertekad melakukan pekerjaan yang tidak bersih, dan senantiasa tertarik pada hal-hal yang tidak kekal. Mereka percaya bahwa memuaskan indria-indria adalah kebutuhan utama peradaban manusia. Karena itu sampai akhir hidupnya kecemasan mereka tidak dapat diukur. Mereka diikat oleh jaringan beratus-ratus ribu keinginan dan terikat dalam hawa nafsu dan amarah.

Mereka mendapat uang untuk kepuasan indria-indria dengan cara yang melanggar hukum.etika bahkan Agama Semuanya itu menjatuhkan mereka kedalam neraka melalui tiga pintu gerbang utama yaitu : hawa nafsu, amarah, dan lobha.

Orang yang sudah bebas dari tiga gerbang neraka itu melakukan perbuatan yang menguntungkan untuk keinsyafan diri sehingga berangsur-angsur ia mencapai
tujuan utama yaitu moksah. Orang-orang ini mengerti apa yang menjadi kewajiban dan apa yang dilarang oleh kitab suci Veda. Dengan pengertian ini mereka yang disebut orang-orang baik tidak boleh diam atau tidak bertindak dikala menemukan orang-orang jahat atau suatu bentuk kejahatan. Ia harus berani menegakkan dharma karena itu berarti menyelamatkan semesta ciptaan Hyang Widhi dan dengan demikian ia dikasihi dan dibimbing menuju kebebasan.

Om Santih, santih, santih
Bhagawan Dwija
Dikutif Oleh HiYoGa
Karta Vidnyana
LEBIH MANIS DARI AMERTA

http://generasihindu.blogspot.com 

Konsep pembebasan dalam Hindu

DALAM berbagai sastra suci Hindu, sudah diprediksi berbagai ciri-ciri baik dan buruknya keadaan setiap zaman. Dari zaman Kerta, Treta, Dwapara maupun zaman Kali. Misalnya ciri-ciri zaman Kali Yuga seperti sekarang ini. Apa yang terjadi dewasa ini sudah dinyatakan dengan sangat jelas dalam sastra suci Hindu ribuan tahun yang lalu.

Bagaimana cara mengatasi ciri negatif setiap zaman, juga sudah diajarkan dalam berbagai sastra suci Hindu. Kalau benar-benar kita paham dengan cara mengatasi keadaan setiap zaman itu, maka manusia pun akan selalu dapat memperkecil akibat buruk dari keadaan negatif setiap zaman. Misalnya keadaan zaman Kali dalam Manawa Dharmasastra dinyatakan bahwa Dharma hanya berkaki satu sedang Adharma berkaki tiga. Ini artinya suara ketidakbenaran jauh lebih kuat dari pada suara kebenaran (dharma).

Dalam kekawin Nitisastra juga sudah dikatakan bahwa yang paling diutamakan pada zaman Kali adalah kekayaan. Dalam kekawin dinyatakan srbgai berikut: Singgihyan tekaning yugaanta kali tan hana lewiha saking mahadhana. Artinya: Sunguh kalau zaman Kali datang tidak ada yang lebih utama dari kekayaan (harta benda). Karena itu zaman Kali ini benar-benar nyata, uanglah yang paling berkuasa.

Karena itu, dewasa ini uanglah yang menjadi ajang perebutan sesama manusia. Orang pun rela mengorbankan kehormatan dan harga dirinya demi uang. Selanjutnya dinyatakan pula dalam kekawin Nitisastra bahwa orang berilmu, para pemimpin, orang suci, orang kuat pengaruhnya semuanya mengabdi kepada orang kaya. Dalam kekawin Nitisastra dinyatakan sbb: Tan waktan guna suura Pandita Widagda pada mengayap ring dhaneswara. Artinya: sungguh sulit diungkapkan, para ilmuwan, para pemimpin, orang suci, orang kuat, semuanya menjadi abdi orang kaya.

Dalam sastra lainnya juga diungkapkan bahwa para penguasa tidak lagi berderma kepada mereka yang miskin malahan disuap oleh orang yang kaya. Pengusaha (Waisya) tidak lagi menghormati penguasa, karena memang sudah tidak pantas lagi untuk dihormati. Para Brahmana enggan mentaati ajaran kitab suci. Orang saling meninggi-ninggikan dirinya. Karena pengaruh zaman Kali manusia menjadi kegila-gilaan, suka berkelahi berebut kedudukan. Orang saling bermusuhan dengan saudaranya sendiri dan mencari perlindungan pada musuh. Demikian antara lain ciri-ciri negatifnya zaman Kali.

Di Bali pun ada beberapa sumber lontar yang menjelaskan keadaan zaman Kali yang sangat mirip dengan bunyi sastra suci tersebut. Misalnya Lontar Sangara Bumi, Yoga Sengara, Kali Yuga dam lainnya. Yang patut direnungkan bagaimana manusia mencari pembebasan dirinya dari pengaruh negatif zaman Kali itu untuk dapat hidup bahagia. Pertama-tama yang patut dilakukan adalah memahami keadaan zaman Kali yang memang seperti itu adanya.

Kita tidak perlu tegang apa lagi stres menghadap keadaan zaman Kali seperti itu. Janganlah kita ingin melihat zaman Kerta pada zaman Kali. Jangankan zaman Kerta, keadaan zaman Treta dan Dwaparapun tidak mungkin kita jumpai pada zaman Kali.

Demikian juga jangan bermimpi keadaan di dunia fana ini seperti keadaan di sorga sebagaimana diuraikan dalam berbagai kitab Sastra Agama. Dengan cara berpikir seperti itu kita akan lebih tenang menghadapi zaman Kali. Dari ketenangan itu, kadar kecerdasan dan kadar spiritualitas akan lebih aktif menghasilkan gagasan-gagasan yang benar-benar bijak untuk mengatasi setiap persoalan yang muncul di zaman Kali ini. Selanjutnya untuk membebaskan diri kita dari pengaruh negatif zaman Kali hendaknya kita taati apa yang diajarkan oleh kitab suci. Sudah dinyatakan dalam kitab Manawa Dharmasastra bahwa cara beragama zaman Kali adlah dengan cara lebih menekankan pada dana punia.

Tentunya cara-cara yang lainnya seperti bertapa, melakukan upacara yadnya sebagai media untuk melakukan Jnyana, Karma dan Bhakti tidak boleh dilupakan. Cuma beda penekanannya saja. Melakukan dana punia itu tentunya harus dengan cerdas. Artinya ikutilah ajaran tentang melakukan dana punia sebagaimana diajarkan oleh kitab-kitab sastra suci. Misalnya dalam Bhagawad Gita XVII.20 yang menyatakan bahwa melakukan dana punia itu hendaknya berpedoman pada ajaran Desa, Kala dan Patra.

Desa artinya disesuaikan dengan tradisi setempat yang sudah berlaku baik dan diterima oleh masyarakat luas. Kala melakukan dana punia itu disesuaikan dengan waktunya. Umumnya dianjurkan ber-dana punia pada saat matahari Uttarayana. Ber-dana punia juga harus tepat kepada orang yang disebut Patra. Patra artinya orang yang patut mendapatkan dana punia. Bhagawad Gita menekankan bahwa yang patut dilakukan zaman Kali adalah berbhakti pada Tuhan dan melayani sesama (Pujanam Sewanam). Itulah yang patut dilakukan untuk mencapai pembebasan rohani pada zaman Kali. 

Sumber: BaliPost
Dikutip Oleh ; Karta Vidnyana

http://generasihindu.blogspot.com 

Doa yang indah

Kesederhanaan pemikiran dapat direnungkan lewat nasihat seperti berikut ini,
yaitu:

Sai Itna Dijiye, Ja me kutum samaye, Me bhi bhuka na rahu, Sadhu bhi
bhuka na rahu
”. 

Doa yang ditujukan oleh seorang penyembah Tuhan yang diwakilkan
lewat Guru Suci Shirdi Sai Baba di negara bagian Maharashtra, India barat.
Penyembah itu berdoa,

Ya Tuhan, berikanlah kami rezeki secukupnya untuk
memelihara keluarga, agar kami tidak kelaparan dan juga agar mereka yang datang
bertamu ke rumah kami tidak kelaparan
.”

Penyembah itu berdoa agar Tuhan memberkahinya berupa dana/uang/harta secukupnya.
Ia tidak memohon harta untuk dapat menikmatinya secara berlebihan, tetapi hanya
untuk memelihara kehidupan keluarga atau rumah tangganya. Ia memohon agar
dikaruniai rezeki secukupnya demi tidak kelaparan dan juga kalau ada tamu
datang, ia bisa mempersembahkan ala kadarnya untuk menjamu tamunya secara layak.
Permohonan yang sangat lugu dan sederhana. Dan kesadaran indah seperti ini tidak
dimiliki oleh setiap orang secara alami. Kesempatan memiliki kesadaran indah
seperti itu terbuka lebar lewat usaha keras tanpa henti secara sadar dari
masing-masing orang.

Sumber: HDNet, by: Prabu Darmayasa
http://www.hindu-dharma.org/2010/08/doa-yang-indah/

Kasih sayang sorang adik

Kisah ini mungkin saja terjadi dalam hidup anda.. Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”. Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi.

Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”. Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau
kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”. Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun.

Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi”. Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat,tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik hasil yang begitu baik” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya?
Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”. Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi,telah cukup membaca banyak buku”. Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya, kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini. Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.”

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.” Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas) .

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!” Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?” Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu... Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu”. Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..” Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya.
“Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja” Dan ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu saja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini”.
Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?” Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan, kakak ipar baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan.” Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah, “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”. “Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi? Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku”. Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya”. Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku. Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Sivaratri

Shivaratri - Jalan Pendakian Menuju Pembebasan

Teks sansekerta yang memuat uraian tentang Shivaratri adalah Padma Purana. Teks ini kemudian diadaptasi ke dalam lontar Siwaratri Kalpa [Kekawin Lubdaka] oleh Mpu Tanakung, seorang Mpu dari Jawa Timur di Abad ke-15 M. Melalui kekawin itu, Mpu Tanakung menceritakan kisah seorang pemburu yang penuh dosa bernama Lubdaka, yang karena melaksanakan Tapa Brata Siwaratri, akhirnya bertemu Betara Siwa dan mendapat anugerah pembebasan [moksha].

Shivaratri jatuh pada purwani tilem kapitu, malam paling gelap. Malam gelap merupakan simbolik sad ripu [kegelapan bathin]. Shiva adalah pemralina atau pelebur, Ratri berarti malam atau kegelapan. Shivaratri berarti malam peleburan kegelapan bathin [sad ripu]. Shivaratri adalah malam pelatihan bathin dari kegelapan menuju penerangan. Karena itu pada setiap hari Shivaratri, dilaksanakan Tapa Brata Shivaratri, yaitu upavasa [puasa makan-minum], mona brata [puasa bicara] dan jagra [sadar atau tidak tidur]. Dengan membebaskan diri dari sad ripu, kita bisa mengikuti tapa yoga Dewa Shiva dan memperoleh berkah pembebasan dari beliau.

LUBDAKA PENUH DOSA [DALAM KEGELAPAN BATHIN PEKAT]

Banyak orang terjebak, seolah-olah hanya karma baik yang bisa menjadi sumber kesucian bathin. Hal itu tidak sepenuhnya benar. Karma baik bisa menjadi awal bathin yang gelap, kalau kita merasa baik lalu kita jadi sombong. Merasa diri suci, lalu orang lain kita sebut kotor. Merasa diri benar, orang yang berbeda kita sebut salah atau sesat. Tidak semua karma buruk itu berakhir pada kegelapan bathin. Dia sebaliknya bisa menjadi sumber kesucian bathin, bila :

1. Kita sadar dan bertobat.

2. Kekurangan-kekurangan kita, rasa bersalah kita, kita gunakan sebagai janji untuk berlatih lebih keras.

Kebaikan bisa jadi sumber kesucian bathin, itu sudah jelas, tapi keburukan juga bisa. Kebanyakan yogi yang perjalanannya jauh, umumnya memang punya karma baik yang dominan. Tapi bila kita punya kekurangan masa lalu, lebih-lebih kekurangannya parah sekali, belajarlah dari kisah Lubdaka. Melalui keteguhan hati melaksanakan Tapa Brata Shivaratri, seseorang bisa bertemu kesucian. Walaupun memang, kalau karma buruk kita lebih dominan tentu saja perjalanan kita akan lebih berat.

TAPA BRATA SHIVARATRI

Tapa Brata Shivaratri dilaksanakan dengan tiga hal, yaitu :

1. Upavasa [puasa makan-minum]

Kata puasa berasal dari bahasa sansekerta "upavasa", yang terserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi puasa. “Upa” berarti dekat dan ”vasa” [wasa] berarti yang maha agung. Secara lengkap, upavasa berarti mendekatkan diri kepada maha kesadaran agung.

Upavasa sama sekali tidak terletak pada siksaan atau penderitaan yang harus dialami dengan tidak makan atau minum. Tujuan upavasa adalah mengendalikan badan [indriya] dan pikiran dari obyek-obyek luar. Karena dari obyek-obyek luar yang direspon oleh badan [indriya] dan pikiran, munculah sad ripu [enam kegelapan bathin]. Dari sad ripu munculah tindakan. Tindakan akan melahirkan pengalaman. Dan pengalaman-pengalaman buruk dalam hidup akan dimulai dari sad ripu yang tidak terkendali.

Catatan : dalam upavasa, tidak ada dikenal istilah batal puasa. Ketika tubuh kita tidak mampu lagi menahan lapar atau haus, silahkan makan-minum, tidak apa-apa. Yang penting pikiran dan indriya kita tetap dikendalikan dengan baik. Paling tidak [minimal] agar tidak memiliki pikiran negatif terhadap obyek luar apapun, selalu berpikir positif.

2. Mona Brata [puasa bicara].

Mona Brata berarti tidak bicara atau diam. Puasa yang lebih sempurna dari tidak makan-minum adalah ditambah dengan diam. Tidak saja mulut [badan] yang puasa, tapi pikiran juga puasa. Dengan diam lebih mungkin pikiran kita melakukan puasa. Tidak memikirkan hal ini dan hal itu, tidak memperdebatkan hal ini dan itu, tidak menghakimi hal ini dan itu.

Ketika pikiran dan perasaan kita sedang diganggu oleh kemarahan, ketersinggungan, iri hati dan segala bentuk sad ripu lainnya, segeralah diam. Hampir semua kecelakaan dalam hidup [berkelahi, bertengkar, dll] karena kita berbicara saat emosi kita terganggu. Sehingga begitu pikiran dan perasaan kita ada gangguan, jangankan besar, kecil saja cepatlah diam, karena diam sangat menyelamatkan. Menyelamatkan diri kita sendiri dan menyelamatkan orang lain.

Dalam cerita tetua Jawa juga ada kisah kura-kura yang karena kemarau panjang lalu pindah [migrasi] dibantu burung. Kura-kura menggigit kayu diterbangkan dua burung. Melihat fenomena langka seperti ini, sejumlah anak-anak berteriak gembira : "hai burung, betapa cerdasnya ide kalian !". Seketika saja kura-kura menjawab : "ini bukan ide burung, tapi ideku !". Dan jatuhlah sang kura-kura dari langit, mati dengan badan berantakan. Ini kisah untuk mengingatkan kita agar hati-hati dengan ego. Berbicara atas nama ego memiliki resiko demikian besar.

Karena itu ada sumpah para yogi pertapa, begitu dalam pikiran saya ada setitik noda, saya bersumpah akan diam seperti sebatang pohon. Lihatlah pohon, ditendang dia diam, dipotong dahannya dia diam, bahkan ditebangpun dia diam. Itulah sumpah para yogi tingkat tinggi, orang suci.

Catatan : Apakah ada hubungan upavasa dengan yoga ? Ada. Terutama bagi mereka yang bathinnya masih memerlukan banyak pembersihan. Ketika kita menghabiskan satu hari dalam pengendalian indriya dan dalam diam [pengendalian pikiran], kehidupan akan berputar tanpa keinginan kita. Dengan bathin yang telah bersih, tentu kita akan lebih mudah fokus pada hakikat kesadaran diri. Inilah yang disebut upavasa [mendekatkan diri kepada maha kesadaran agung]. Karena kesadaran akan mengundang datangnya kesadaran.

3. Jagra [sadar].

Jagra berarti sadar. Umumnya dalam pelaksanaan Shivaratri dimaknakan sebagai tidak tidur semalam suntuk sambil meditasi, mulat sarira [introspeksi diri] ataupun aktifitas lain seperti memusatkan diri pada Dewa Shiva. Akan tetapi sadar yang dimaksud dalam kisah Lubdaka tidak semata sebatas sadar tidak tidur. Lebih jauh lagi, ia juga mengandung arti selalu sadar [tidak tidur] kepada segala bentuk kegelapan bathin [sad ripu].

Ketika Lubdaka berada diatas pohon, untuk mencegah rasa kantuknya ia memetik daun bila helai demi helai lalu menjatuhkannya ke bawah, tanpa memikirkan masa lalu dan masa depan. Ini memberi makna pentingnya kita untuk selalu sadar di moment saat ini. Sebagian besar penglihatan, pemahaman dan persepsi kita sebenarnya diproduksi oleh pikiran. Apa yang kita sebut dengan bahagia dan sedih sebenarnya tidak lebih dari sekadar produk pikiran. Sehingga titik berangkat dari evolusi bathin adalah sadar dan waspada [tidak pernah tidur] pada setiap gerak-gerik sad ripu pada momen di saat ini. Karena siapa saja yang tekun berlatih menerangi bathin dengan kesadaran, menjauhkan hidup dari sad ripu, hidupnya menjadi sejuk dan damai. Sekaligus bergerak mendekat dengan realitas diri yang sejati.

Perhatikan hidup ini. Seringkali kita baru baru sadar bahayanya judi setelah banyak harta habis. Kita baru sadar betapa bahagianya hidup jujur setelah kita masuk penjara karena korupsi. Kita baru sadar celakanya selingkuh setelah pasangan hidup menuntut cerai, dll. Berbagai godaan kehidupan ini seringkali menipu dan meninabobokan kita. Inilah yang disebut orang yang menjalani hidup ini dalam keadaan tidur. Banyak diantara kita yang lahir, tumbuh, menikah, mencari nafkah, membesarkan anak dan akhirnya meninggal dalam keadaan tidur. Tanpa pernah tahu dan menemukan siapa realitas dirinya yang sejati.

Titik tolak dari evolusi bathin bisa bermula dari mengelola kesadaran. Kesadaran bukan saja akan menyelamatkan kita dari banyak badai kehidupan, tapi sekaligus membimbing kita kepada realitas diri yang sejati. Sayangnya kesadaran bukanlah suatu hal stabil yang mudah dikelola. Sebab kita sudah melewati jangka kehidupan yang demikian lama dengan segala pengaruhnya kepada bathin kita. Disinilah diperlukan kesabaran. Kesabaran bukan saja sumber kedamaian, tapi juga sumber kejernihan dan keheningan. Seperti Lubdaka yang dengan sangat sabar semalam suntuk memetik daun bila, tanpa memikirkan masa lalu dan masa depan. Kekeruhan pikiran mudah sekali muncul dalam kualitas bathin yang tidak sabar, seperti misalnya marah yang merupakan salah satu hasil dari ketidaksabaran. Tekunlah berlatih kesadaran, jangan pernah tidur, sampai tidak ada lagi sad ripu yang tersisa, yang ada hanya kesadaran agung [Parama Shiva], semuanya terang benderang.

DEWA SHIVA

Bagi sebagian besar orang yang mempelajari dharma dengan intelek, Dewa Shiva adalah dewa yang dihormati dan dipuja. Tapi bagi para praktisi Tantra, Shiva Sidhanta dan beberapa ajaran tingkat menengah keatas lainnya, Dewa Shiva bukan hanya sebatas pengetahuan intelek, tapi beliau sering hadir langsung untuk memberikan berbagai bimbingan dan berkah spiritual. Deva Shiva adalah maha kesadaran kosmik yang penuh welas asih dan selalu membimbing manusia untuk menuju pembebasan. Bertemu dengan Dewa Shiva adalah sebuah pengalaman langsung [pratyaksa pramana, anubhavam], tidak hanya sebatas pengetahuan.

Sebagian besar dari kita umumnya berkah dharma-nya [sesuai putaran karma masing-masing] adalah sebagai orang biasa dan bukan praktisi ajaran tingkat menengah keatas. Tapi dengan memusatkan pikiran kita kepada beliau, kita juga bisa mendapatkan berkah bimbingan Dewa Shiva guna membersihkan bathin kita dari berbagai kegelapan bathin [sad ripu].

Om Namah Shivaya.

http://hindu-nusantara.blogspot.com/2011/01/shivaratri-jalan-pendakian-menuju.html

Selasa, 29 November 2011

Renungan Akhir Tahun 2010: Spa yang Mempercantik Jiwa

Indonesia berduka, mungkin itu ungkapan tepat buat bangsa ini di akhir 2010. Tatkala kemiskinan belum  terselesaikan, pengobatan mahal, pendidikan jauh dari jangkauan masyarakat kebanyakan, elit belum satu bahasa dalam melangkah, politisi miskin empati, korupsi menyentuh hati, alam malah menelan banyak nyawa manusia melalui banjir, tsunami, letusan gunung. Sehingga memunculkan keraguan, bila di tanah subur bernama Indonesia, kesedihan menghempas demikian ganasnya, apa yang terjadi di tempat-tempat minus seperti Afrika?
Menggali ke dalam

Bagi setiap sahabat yang datang ke kantong kesedihan berbekalkan kepekaan, terlalu banyak stok air mata yang dibutuhkan untuk menangisi penderitaan. Anak-anak banyak yang terlahir membawa penyakit aneh-aneh, orang tua semakin banyak yang ditinggalkan oleh kesibukan anak-anaknya, warga lembaga pemasyarakatan tidak saja teramat sakit oleh siksaan hukum malah lebih sakit lagi oleh cacian masyarakat, belum lagi bila ditambah dengan tersentuhnya hati melihat teramat banyak pengungsi.
Mengeluh, protes, melawan keadaan memang dilakukan banyak orang. Namun, seperti tenggelam di lumpur rawa-rawa yang dalam, semakin melawan semakin tenggelam. Terinspirasi dari sini, sebagian pencari kemudian belajar berhenti melawan, mencoba untuk menemukan cahaya di balik kegelapan kesedihan.
Jepang adalah sebuah guru. Setelah dua kotanya hangus oleh bom atom, kemudian memulai perjalanan peradaban yang jauh dari nafsu berlebihan akan peperangan. Nelson Mandela adalah secercah cahaya. Kendati tenggelam dalam kesedihan dan ketidakberdayaan karena dipenjara selama dua puluh tujuh tahun, kemudian tidak punya pilihan lain selain memeluk lembut keihklasan. Mahatma Gandhi adalah sebuah lentera. Tatkala penderitaan bangsanya menghadang, ia mengorbankan segalanya untuk sebuah perjuangan tanpa kekerasan.  Ada yang sama dari semua cerita ini, tidak saja kekerasan memecahkan masalah, kelembutan juga membawa manusia keluar dari terowongan panjang kegelisahan.
Pernah terjadi dialog antara seruling dan bambu. Karena seruling dikagumi, bambu kemudian cemburu. Dengan lembut seruling mengungkapkan bahwa dulunya ia juga bambu. Namun, melalui serangkaian rasa sakit yang tajam dan mendalam seperti dipotong golok sampai dilobangi pisau, kemudian ia bisa mewakili keindahan dengan suara menawan.
Meminjam cerita indah Thich Nhat Hanh, suatu hari ada air yang terperangkap lama dan dalam di pegunungan. Hujan deras kemudian membuatnya  bisa menyatu dengan air sungai. Betapa gembiranya ia menjadi sungai, terutama karena bisa memantulkan awan. Seperti menemukan kekasih yang amat dicintai, demikian perasaan air. Cuman, karena sifat awan datang dan pergi, air tadi kemudian dilanda kesedihan mendalam ketika awan menghilang.
Sebagaimana kesedihan lain, kesedihan air ini kemudian membuatnya merenung. Dan di puncak renungannya menemukan, ternyata di dalam diri air sudah tersedia awan. Dari sini air tidak saja keluar dari cengekeraman kesedihan, malah mengalami pencerahan. Terutama dengan mengalami langsung hakekat kehidupan yang serba terhubung.
Bila boleh jujur, cerita air ini adalah cerita kita semua. Pertama, banyak manusia mengira sumber kebahagiaan dan kedamaian ada di luar sana. Dan mereka yang pernah mengalami tahu, harta serupa awan, ada saatnya datang ada saatnya menghilang. Kedua, tatkala digoda kesedihan terpaksa menggali ke dalam. Dan ternyata ada cahaya di dalam. Kebahagiaan hanya menawan kalau pernah melewati kesedihan. Ketiga, sesampai di sini tiba-tiba muncul cahaya kasih sayang.
Membuka jendela

Bila demikian cara memandang kesedihan, Indonesia berhenti berwajah sebagai negara yang penuh bencana, Indonesia berubah menjadi spa yang mempercantik jiwa. Serupa dengan spa sesungguhnya yang membuat wajah menjadi semakin cantik dan simpatik, Indonesia sedang membuat jiwa warganya menjadi cantik sekaligus simpatik.
Cuman, serupa cahaya matahari, Indonesia bisa menerangi mereka yang membuka jendela jiwanya. Protes tidak saja menutup rapat-rapat jendela jiwa, malah menjauh dari sumber cahaya. Setiap sahabat yang membuka jendela jiwanya tahu, kesedihan hanya gerbang spiritual yang terbuka.
Mungkin itu sebabnya Jalaludin Rumi tidak punya kegiatan lain terkecuali menggali ke dalam. Fisikawan Fritjof Capra menyebut penemuannya dengan The hidden connections. Dalam kesedihan orang ada kesedihan kita, dalam kebahagiaan tetangga ada kebahagiaan kita. Dan mudah dimaklumi, bila YM Dalai Lama berulang-ulang berpesan: “Bila Anda mau berbahagia laksanakan kasih sayang, jika Anda ingin orang lain berbahagia laksanakan kasih sayang”. Karena kasih sayang menyembuhkan, mendamaikan, menghubungkan.
Sehingga di ujung cerita spa yang mempercantik jiwa, mungkin layak bertanya ulang ke dalam, dalam arsitektur spiritual Indonesia, seberapa banyak diantara kita sudah menggali ke dalam, berjumpa cahaya, dan kemudian dipangku oleh kasih sayang?

By, Gede Prama.
http://gedeprama.blogdetik.com/2010/12/27/renungan-akhir-tahun-2010-spa-yang-mempercantik-jiwa/

Sad Ripu: Kama, Hawa Nafsu - Keinginan

MENGELOLA HAWA NAFSU / KEINGINAN UNTUK STANDAR ORANG BIASA

Untuk orang biasa seperti kita [bukan orang suci : yogi, pertapa, pemangku, pandita], keinginan memiliki dua wajah yang berbeda :

1. Sebagai energi pendorong yang menggerakkan diri kita sehingga bisa mengalami kemajuan.

2. Sebagai jebakan / perangkap kehidupan.

Sebagai orang biasa [orang duniawi], bisa dimaklumi kalau kita didorong oleh banyak keinginan, terutama dalam kaitan melaksanakan svadharma [tugas kehidupan] kita sendiri. Yaitu sebagai suami / istri, sebagai orang tua, sebagai pelajar, sebagai anggota masyarakat sosial, dll. Dengan satu catatan : hindari keinginan itu tidak lagi berfungsi sebagai energi pendorong untuk hal yang baik dan mulia, tapi menjadi perangkap kehidupan.

Bagi orang biasa seperti kita, keinginan tidak selalu jelek atau buruk, asal kitalah yang mengendalikan keinginan itu dan bukan kita yang dikendalikan oleh keinginan. Misalnya : keinginan punya banyak uang bisa membuat kita bekerja tekun dan keras lalu menjadi kaya, tapi kalau sudah kita yang dikendalikan oleh keinginan : kita melakukan korupsi, mencuri atau menipu. Nafsu seks bisa membuat hubungan suami-istri menjadi indah dan harmonis, tapi kalau sudah kita yang dikendalikan oleh nafsu seks : kita selingkuh atau cari istri lagi. Keinginan untuk bermain atau bersenang-bersenang bisa membuat kita gembira, tapi kalau sudah kita yang dikendalikan oleh keinginan : tugas-tugas kita terabaikan, lalu semuanya jadi berantakan. Dll.

Hawa nafsu dan keinginan memiliki banyak wajah. Ada keinginan untuk memiliki uang dan benda materi, keinginan untuk memuaskan indriya [badan], keinginan untuk bersenang-senang, keinginan untuk memiliki kekuasaan, keinginan untuk dihormati orang, keinginan untuk dicintai, dll. Tapi apapun bentuk keinginan tersebut, kalau kita tidak berhati-hati, semuanya bisa menjerumuskan kita ke dalam jurang kegelapan bathin. Coba perhatikan orang yang mengikuti hawa nafsu dan keinginannya habis-habisan. Seks yang se-enak-enaknya, makan yang se-enak-enaknya, ingin dihormati semua orang, dll. Hidupnya pasti berguncang, tidak tenang, gelisah.

Usahakan keinginan berhenti hanya sebagai energi pendorong kemajuan. Bisa kita ibaratkan seperti memasak di dapur, kita memerlukan api untuk memasak, akan tetapi apinya terkendali. Ketika kita menempatkan keinginan sebagai api di dapur, sebatas untuk membuat makanan jadi masak, dia baik dan berguna. Akan tetapi kalau api-nya besar dan tidak terkendali, rumah [kehidupan] kita akan terbakar. Sehingga kalau ingin hidup yang damai sekaligus terang, ketika kita digerakkan oleh keinginan, keinginan itu terkendali.

Belajar membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Bekerjalah dengan keras sesuai svadharma [tugas kehidupan] kita masing-masing, lakukan yang terbaik, jangan keluar dari dharma. Tapi apapun hasilnya, terimalah dengan senyum damai.

EVOLUSI JIWA TERKAIT KAMA [HAWA NAFSU / KEINGINAN]

Tanpa menggunakan persepsi dualitas [baik-buruk, benar-salah, suci-kotor, tinggi-rendah], para maharsi mengajarkan kalau manusia dan mahluk-mahluk lainnya berada pada tingkat pertumbuhan [evolusi] jiwa-nya masing-masing dalam roda samsara [kelahiran kembali yang berulang-ulang]. Dimanapun tingkatannya, semuanya sedang melakukan hal yang sama : bertumbuh. Ada 4 tingkatan evolusi jiwa, dalam kaitannya dengan hawa nafsu / keinginan, menuju paramashanti :

1. Orang yang keinginannya tidak terkendali.

Orang seperti ini keinginannya liar, tidak pernah puas. Ketika bisa punya mobil Kijang, dia bandingkan dengan mobil BMW. Ketika sudah bisa punya rumah, dia bandingkan dengan rumah mewah. Suami / istri dia banding-bandingkan dengan selebritis yang tampan / cantik. Mampu menghasilkan uang satu juta, dia bandingkan dengan uang lima juta. Sehingga keinginannya selalu tidak terpenuhi. Dia seperti berkejaran dengan bayangan sendiri. Kalau bayangan kita kejar, tentu kita tidak akan pernah ketemu. Orang seperti ini mudah sekali resah, gelisah dan marah-marah. Dan tentunya tidak akan bertemu shanti [kedamaian].

2. Orang yang keinginannya terpenuhi sementara.

Orang seperti ini merasa shanti [damai] semata-mata karena sebagian keinginannya terpenuhi. Akan tetapi sifatnya sangat sementara. Coba kita perhatikan, orang yang bisa beli HP model baru, senangnya paling lama dua bulan. Karyawan yang naik gaji, paling lama tujuh hari sudah kurang lagi. Damai karena paginya dimanja istri, sorenya rasa itu sudah hilang lenyap karena istri marah-marah. Damai karena dipuji / dihormati orang, kemudian rasa itu seketika hilang lenyap karena ada yang menghina kita. Damai karena bisa makan enak, sebentar lagi rasa itu sudah hilang karena ada klien yang komplain. Sehingga kedamaian bathinnya bersifat sangat goyah, umurnya tidak lama.

3. Orang yang penuh rasa syukur [shantosa].

Orang seperti ini merasa shanti [damai] karena rasa syukur yang mendalam, dalam setiap dualitas kehidupan. Tidak saja ketika suami / istri lagi baik ada rasa syukur, ketika suami / istri lagi marah-marah juga ada rasa syukur, karena suami / istri yang lagi marah sedang mengajarkan kita untuk menjadi sabar dan bijaksana. Tidak saja ketika lagi banyak uang ada rasa syukur, ketika lagi bokek-pun juga ada rasa syukur, karena bokek sedang mengajarkan kita untuk menjadi rendah hati. Tidak saja ketika sedang sehat ada rasa syukur, ketika lagi sakit keras juga ada rasa syukur, karena sakit keras membuat kita banyak membayar hutang karma. Sehingga kedamaian bathinnya sifatnya mulai dalam dan kokoh.

4. Orang yang bathinnya damai sempurna [paramashanti].

Ini adalah tahapan menjadi orang suci. Dimana keinginan sepenuhnya lenyap, termasuk keinginan untuk menjadi suci ataupun mengalami pembebasan. Ketika seseorang berhenti digerakkan oleh keinginan, yang bekerja adalah hukum semesta. Dia mengalir sempurna dalam sungai kehidupan. Ketika seluruh keinginan sepenuhnya lenyap, ini yang dalam vedanta disebut sebagai paramashanti [kedamaian sempurna].

EVOLUSI JIWA DALAM MENGARUNGI KEHIDUPAN

Setiap orang dalam hidup ini bertumbuh. Bisa kita ibaratkan idealnya hidup ini seperti menanak nasi memakai kompor. Di awal menanak nasi kita perlu api yang besar. Tapi begitu airnya mendidih, airnya mau habis, apinya kita kecilkan.

Begitu pula dalam hidup ini, ketika kita masih muda dan kuat, umumnya apinya masih besar. Cirinya adalah kebahagiaan kita ada saat keinginan terpenuhi. Ingin punya motor, kemudian dapat motor, kita bahagia. Ingin punya rumah, kemudian dapat rumah, kita bahagia. Ingin gaji naik, kemudian gaji naik, kita bahagia [tahap dua].

Tapi begitu umur kita bertambah dan kita menua, apinya kita kecilkan. Cirinya kita tidak lagi bahagia karena keinginan kita terpenuhi, tapi karena rasa syukur dan ikhlas yang mendalam [tahap tiga].

Dan memasuki masa wanaprasta [melepas keduniawian] atau mendekati saat kematian, sangat bagus kalau seluruh keinginan kita sepenuhnya lenyap [tahap empat]. Tidak terbayang indahnya kalau di saat menjelang kematian, kita bisa menyambut kematian dengan pikiran yang hening sempurna, tanpa keinginan.

http://hindu-nusantara.blogspot.com/2011/01/sad-ripu-1-kama-hawa-nafsu-keinginan.html

Dua, Satu, Kosong

Seorang anak muda  bertanya ke pamannya tentang jenis usaha yang begitu dibuka, enam bulan kemudian langsung kaya raya. Sambil senyum-senyum penuh pengertian pamannya menjawab: “kalau ada sudah om ambil duluan!”.
Bila boleh jujur, demikianlah perilaku manusia kekinian. Semuanya mau serba cepat. Tatkala sekolah mau lulus cepat-cepat, begitu bekerja buru-buru mau naik pangkat, yang jadi pengusaha mau kaya dalam waktu singkat. Padahal, bila lulusnya cepat, naik pangkatnya cepat, terkena stroke dan matinya pun cepat.
Tidak elok bila bercerita kekurangan orang lain. Yang jelas alam sebagai guru bertutur, bila gunung tinggi maka jurangnya dalam. Di mana ada kelebihan yang menjulang tinggi di sana tersembunyi kekurangan yang mendalam. Sayangnya, tidak sedikit manusia yang hanya mau puncak gunung, serta menolak jurang.
Mau   kaya   selama-lamanya,  kepingin  duduk di atas seumur hidup, berdoa agar kecantikan tidak dibawa pergi oleh penuaan, suka dihormati tidak suka dimaki. Dan ternyata, tidak pernah ada kehidupan yang berwajah serba positif, serupa dengan tidak ada gunung tanpa jurang.
Sadar dengan wajah kehidupan seperti inilah, kemudian para bijaksana meninggalkan mimpi hidup berupa muda kaya tua bahagia. Dalam pengalaman para bijaksana, muda adalah waktu-waktu belajar dan bekerja. Kalau pun ada porsi doanya, sebagian lebih doa anak muda dilatarbelakangi sayup-sayup lirik lagu maju tak gentar membela yang bayar.
Bagi yang pernah melewati masa muda akan tersenyum-senyum malu menoleh ke belakang. Dulu, ketika umur masih kepala dua atau tiga, tenaga sedang kencang-kencangnya, nafsu untuk disebut lebih demikian menggeloranya, mata selalu menoleh bila ketemu wanita cantik, rasanya bila ada pekerjaan mengecat langit pun akan disanggupi dengan kata bisa. Maklum masih muda.
Ada orang tua bijaksana yang bercerita, kalau ia dulu mengira dirinya serupa dengan pesawat tempur yang lari melesat kencang di langit secara berwibawa. Bisa melakukan banyak hal-hal hebat. Namun ketika melewati banyak jatuh bangun dalam kehidupan, serta banyak jatuh sakit,  baru menyadari ternyata dirinya hanya sebuah sepeda motor tua. Namun sepeda motor tua yang bahagia.
Makanya  tetua  di  Jawa  punya  pesan indah dan menggugah. Puncak perjalanan kehidupan ketemu ketika seseorang mulai tahu diri. Dengan bekal ilmu tahu diri inilah kemudian sayup-sayup lirik lagu maju tak gentar membela yang bayar kemudian lenyap. Awalnya diganti dengan lirik lagu kemesraan ini janganlah cepat berlalu. Kemudian berubah  menjadi   lagu syukur. Dan ujung-ujungnya, tidak ada satu lirik lagu pun yang tersisa. Hanya hening, sepi, sunyi yang menyentuh hati.
Di salah satu pojokan kehidupan guru di dalam diri pernah berpesan, awalnya adalah dua (penyembah dan yang disembah). Ketulusan, keikhlasan dan kepasrahan kemudian membuat yang dua menjadi satu. Setelah lama tenggelam dalam kebersatuan, bahkan yang satu ini pun ikut menghilang. Untuk itu ada yang menulis: The best theologian is the one who never speaks about God. Theolog terbesar adalah mereka yang tidak pernah berbicara tentang Tuhan. Bukan karena ateis, apa lagi karena membenci Tuhan,  sekali lagi bukan!. Namun bila masih menyebut nama Tuhan artinya masih dua.
Perhatikan apa yang ditulis Ezra Bayda dalam At home in the muddy water: “The joy of relationship ultimately comes from effortlessly giving ourselves to others, like a white bird in the snow”. Beginilah keseharian manusia yang sudah meninggalkan angka dua sekaligus angka satu. Dulunya, suka cita memang datang dari kegiatan memberi sesuatu buat diri sendiri. Di tingkatan ini, suka cita adalah buah dari ketulusan untuk memberi pada pihak lain, persis seperti burung putih di salju: membantu namun tidak kelihatan!. Tidak kebayang indahnya kehidupan bila bisa sampai di sini. Dan baju luar orang jenis ini bisa petugas satpam yang membukakan pintu di kantor cabang bank, supir taksi di jalan raya sampai seorang pajabat tinggi. Namun ada yang sama di antara mereka, berbahagia dalam menolong, karena menolong sedang membuat manusia bergerak dari angka dua menjadi angka satu. Begitu menolong dilakukan terus menerus tanpa kebutuhan untuk dipuji atau disebut suci, angka satu ini pun lenyap dalam keheningan. Persis seperti burung putih di salju.

By Gede Prama.
http://gedeprama.blogdetik.com/2011/09/16/dua-satu-kosong/

Keberuntungan Sejati

Di tahun 1920-an, peneliti Belanda datang ke Bali dan menemukan bahwa dalam kamus hidup orang Bali ketika itu tidak dikenal istilah kesenian sebagai pertunjukan komersial. Semua gerak kehidupan (bertani, mengukir, menari) dilakukan sebagai serangkaian persembahan. Makanya salah satu arti Bali adalah persembahan.
Tidak ada yang sempurna di bawah langit, kendati demikian Bali pernah digoda bom teroris. Terasa sekali penderitaan setelah itu. Namun, beberapa waktu kemudian tidak saja bangkit, malah berkali-kali dinobatkan sebagai pulau tujuan wisata terbaik di seluruh dunia oleh media global.
Bila boleh jujur, ada spirit yang bersemayam di balik karisma Bali yang kerap disebut the last paradise (surga terakhir) oleh masyarakat internasional. Dan spirit itu bertumbuh sebagai hasil percampuran antara agama dan seni selama ribuan tahun. Perpaduan keduanya, kemudian dipersembahkan sebagai serangkaian pelayanan.
Sehingga menjadi sumber inspirasi Indonesia yang masih menyimpan banyak lobang-lobang pelayanan, lebih-lebih tatkala nurani publik terlukai skandal korupsi, bila Bali bisa berkarisma dengan pelayanan sebagai hasil penggabungan antara agama dengan seni, kenapa Indonesia tidak bisa? Dalam agama dan seni, Indonesia kaya dengan nilai-nilai yang menjujung tinggi pelayanan.
Keberuntungan dalam pelayanan
Dulunya, hanya pedagang yang tekun mencari keberuntungan. Sekarang, ia merambah ke mana-mana. Rumah, tempat kerja, taman semuanya ditata sehingga keberuntungan datang dari segala penjuru.  Dan ukuran keberuntungan, apa lagi kalau bukan kekayaan. Ini tentu saja layak dihormati. Masyarakat Barat sudah berjalan jauh di depan dalam hal kekayaan.
Namun, Kemajuan ala Barat ini memakan biaya mahal. Baru di zaman ini terjadi banyak rumah sakit jiwa penuh, sebagian pasien yang belum sepenuhnya sembuh terpaksa dipulangkan karena ada pasien baru yang lebih parah dan lebih membutuhkan.  Lembaga pemasyarakatan kehabisan ruang untuk menampung nara pidana, sebagian remisi terpaksa diberikan karena ruang yang ada sudah tidak manusiawi.  Angka perceraian menaik tajam. Keadaban manusia tidak berhasil mengerem perang dan terorisme. Seorang guru dari Timur pernah menginap di salah satu rumah orang super kaya di AS. Rumahnya tentu super mewah, namun yang mengejutkan, di kamar mandi tersedia pil tidur dalam jumlah berlimpah. Rupanya, semakin kaya seseorang bukannya semakin mudah tidurnya.
Contoh   termutahir  di  negeri  ini  adalah  dibukanya   rekaman  percakapan berbagai pihak yang mau membubarkan Komisi Pemberantasan Korupsi.  Terlihat jelas, bagaimana nafsu berlebihan akan kekayaan bahkan bisa menghancurkan seluruh tatanan hukum sebuah negara. Dalam totalitas, tidak ada yang melarang mengejar kekayaan, namun karena demikian besarnya ongkos nafsu berlebihan akan kekayaan, mungkin layak merenungkan ulang pengertian tentang keberuntungan.
Tetua di Timur telah lama mengenal kearifan tentang kucing yang mengejar ekornya. Semakin dikejar semakin lari. Dan tatkala tidak dikejar, ia berhenti. Dalam bahasa Franz Kafka: the meaning of life is that it stops. Makna kehidupan baru terbuka ketika manusia belajar berhenti. Anehnya, ketika berhenti bukan kehilangan makna, malah menemukan. Ini yang bisa menjelaskan kenapa ada guru meditasi menyarankan, kehidupan serupa air di gelas. Setenang apa pun tangannya, bila air di gelas dicoba ditenangkan dengan cara memegangnya, ia tetap bergerak. Untuk itu, letakkan saja!.
Saran letakkan saja ini tentu bukan berarti semua harus meninggalkan kota pergi ke hutan, atau semua orang duniawi harus meninggalkan kesehariannya untuk bermeditasi. Sekali lagi bukan. Namun meletakkan keinginan berlebihan bahwa hidup harus selalu sesuai dengan tuntutan ideal. Untuk kemudian mendalami ternyata keberuntungan tidak saja ada dalam tujuan-tujuan ideal, melainkan juga tersedia dalam setiap langkah pelayanan. Pertumbuhan tidak saja memerlukan kehebatan hasil, juga merindukan kelembutan proses.
Siapa saja yang diberi berkah spiritual untuk bisa melihat Nusantara dalam-dalam, lebih-lebih di putaran waktu ketika negeri ini mau runtuh oleh skandal korupsi, akan menitikkan air mata ketika mengetahui bahwa Mohammad Hatta, salah satu proklamator, ternyata mengisi hidupnya di jalan pelayanan. Di sebuah jumat, istrinya mengatakan kalau tabungan baru cukup untuk membeli mesin jahit. Dan karena kesibukan, akan ke toko hari senen. Pak Hatta tahu kalau senen berikutnya tabungan itu tidak akan cukup, karena beliau sendiri yang akan mengumumkan kebijakan pemotongan uang hari senennya. Namun karena meletakkan kepentingan publik di kepala, kepentingan pribadi di kaki, Pak Hatta diam seribu bahasa. Serupa dengan Mahatma Gandhi dan Bunda Theresa, mereka yang mengisi hidupnya dengan pelayanan, semakin lama bukannya semakin redup, malah semakin bercahaya.
Bercermin dari sini, seorang guru menulis: The joy of life ultimately comes from effortlessly giving our selves to others, like a white bird in the snow. Dalam kehidupan para bijaksana, suka cita datang dari ketulusan untuk terus menerus memberi. Persis seperti burung putih di salju. Menyediakan tangan bantuan namun tidak kelihatan. Dalam perspektif ini, bisa dimengerti bila salah seorang penekun meditasi di Barat setelah mengalami pencerahan kemudian bukannya mengenakan baju suci, namun menjadi supir taksi. Inilah keberuntungan sejati: tercerahkan, kemudian melakukan tugas pelayanan dan tidak kelihatan.
Mungkin itu sebabnya di negara maju pekerja birokrasi tidak disebut pegawai negeri melainkan pelayan publik. Melayani, itu dan hanya itu alasan birokrasi  dan profesi dibentuk. Melayani, itu dan hanya itu tugas manusia yang tercerahkan. Dan tugas pelayanan menjadi menggetarkan bila ada yang bisa membaca pesan suci di balik kisah burung putih di salju.  Andaikan banyak pemimpin, pendidik, penyembuh, praktisi hukum negeri  ini yang tergetar hatinya dengan kisah burung putih di salju, terterangi batinnya oleh roh pelayanan pulau Bali, tidak terhitung banyaknya kemiskinan yang bisa diusir dari Nusantara. Tidak terhitung banyaknya bunuh diri, depresi, kriminalitas, perceraian dan penyakit sosial lainnya yang bisa dihindarkan. Sekaligus berhenti menyebarkan virus negatif yang membuat alam terus menggoda dengan bencana. Dan yang paling penting, hanya dengan melayani kejujuran maka luka publik mungkin terobati.

http://gedeprama.blogdetik.com/2011/11/26/keberuntungan-sejati/

Menata Ulang Fikiran

Kita lahir ke dunia sebagai manusia, diikat oleh tiga belenggu, yaitu belenggu pikiran [manas], ahamkara [ke-aku-an] dan sthula sarira [badan fisik]. Dimana manas [pikiran] adalah pelopor dari kedua belenggu yang lain, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Sehingga halangan besar manusia di dalam evolusi bathin adalah pikirannya sendiri. Dan langkah evolusi bathin terpenting adalah melampaui pikiran [berhenti didikte oleh pikiran] dan meniadakan ke-aku-an [nirahamkarah].

Sayangnya ini adalah hal yang berat dan tidak mudah untuk dilakukan. Terutama karena kita telah mengotori bathin kita selama jutaan kelahiran sebelumnya. Tapi dalam tahapan-tahapan evolusi bathin, langkah pertama bisa kita mulai dari selalu tekun dan sadar untuk selalu berpikir positif. Karena pikiran negatif akan membimbing kita menuju kemarahan, kebencian, permusuhan dan kegelapan bathin. Sebaliknya pikiran positif akan membimbing kita menuju kebaikan, welas asih, kedamaian, pikiran yang terkendali dan jalan kesadaran.

-[Sampai di suatu ketika, di suatu moment kita bisa sadar bahwa baik yang positif maupun negatif hanyalah refleksi dari persepsi pikiran kita sendiri]-.

1. MANACIKA [BERPIKIR POSITIF] : LANGKAH PERTAMA BAGI PEMULA

Bayangkan ketika istri kita sedang ngomel-ngomel cerewet, kalau kita berpikir negatif kita akan marah dan bertengkar. Sebaliknya kalau kita berpikir positif, “istri saya sedang mengingatkan kekurangan saya, istri saya sedang membimbing saya menjadi lebih baik, istri saya mengajarkan saya untuk belajar sabar”, maka kita tidak jadi marah dan bertengkar. Bisa jadi malah sayang-sayangan.

Bayangkan kalau anak kita nakal sekali, kalau kita berpikir negatif kita akan marah dan menyakiti anak kita. Sebaliknya kalau kita berpikir positif, “anak saya sedang bereksplorasi, anak saya penuh kreasi dan imajinasi, nakal adalah cara seorang anak bertumbuh menuju dewasa”, maka kita tidak jadi marah dan menyakiti anak kita. Kita akan membimbingnya untuk menyalurkan hal tersebut, misalnya dengan bermain.

Bayangkan kalau teman kantor memfitnah kita atau tetangga melempar rumah kita dengan batu, kalau kita berpikir negatif kita akan marah, benci, dendam dan balas menyakiti. Sebaliknya kalau kita berpikir positif, “dia sedang membimbing saya masuk surga atau bahkan merealisasi moksha, dia sedang memberi saya kesempatan membayar hutang karma”, maka kita tidak jadi marah, benci, dendam dan balas menyakiti. Karena kalau kita mampu membalas fitnah dengan kesabaran dan bahkan dengan kebaikan, bukankah kemungkinan masuk svarga loka atau merealisasi moksha menjadi lebih tinggi ?

Bayangkan kalau kita sedang terbaring lemah di rumah sakit, kalau kita berpikir negatif kita akan sedih, bingung, menyesal dan murung. Sebaliknya kalau kita berpikir positif, “semesta sedang mengingatkan saya betapa berharga waktu kita sehat, semesta sedang memberikan saya jeda waktu untuk merenungkan makna kehidupan, semesta sedang memberikan saya kesempatan untuk membayar hutang karma, semesta sedang mengajarkan saya untuk menjadi sabar dan bijaksana.”, maka kita tidak jadi sedih, bingung, menyesal dan murung.

Ketenangan-kesejukan bathin yang timbul dari ketekunan untuk selalu berpikiran positif ini akan membuat kita bisa menyelaraskan diri dengan situasi keadaan apapun. Kita tidak akan terseret oleh api sad ripu seperti kemarahan, rasa penasaran, penyesalan, kesedihan, keserakahan, dll.

Sebelum kita menilai sebuah situasi sebagai buruk, menyedihkan, sial, dll, dalam banyak sekali kasus kita tidak sadar bahwa PIKIRAN kita sendirilah yang negatif, sehingga sebuah situasi juga terlihat negatif.

Sebelum kita menilai orang lain sebagai salah, jahat, sesat, tidak punya malu, dll, dalam banyak sekali kasus kita tidak sadar bahwa PIKIRAN kita sendirilahlah yang kotor, sehingga orang lainpun terlihat kotor.

Kita tidak melihat hal-hal sebagai mana adanya, kita melihat hal-hal itu sebagaimana keadaan pikiran kita sendiri.

Sehingga sebelum kita memberi label buruk, kotor atau negatif kepada orang lain atau sebuah situasi, yakinkan diri dengan sekuat-kuatnya bahwa hanya PIKIRAN kita sendirilah yang negatif.

Bagaimana kehidupan kita akan berjalan, kemana evolusi bathin kita akan bergerak, sangat dipengaruhi oleh PIKIRAN kita sendiri. Dan selalu tekun dan sadar untuk SELALU BERPIKIRAN POSITIF sangat menyelamatkan, baik menyelamatkan diri kita sendiri maupun orang lain. [Apalagi kalau hidup ini kita kemudian kita isi dengan welas asih dan kebaikan].

Dengan catatan hal ini hanya boleh dipahami melalui bathin yang jernih dan bening. Setelah itu, barulah kita semua akan bisa masuk ke dalam sebuah pemahaman tentang realitas diri yang sejati [Atma Jnana].

Note : Ini adalah langkah awal yang sangat penting bagi pemula, bagi mereka yang bathinnya masih penuh kekotoran.


2. MEMAHAMI RIAK-RIAK PIKIRAN : LANGKAH KEDUA [LANGKAH YOGA]

Kembali ke awal bahwa halangan besar manusia di dalam evolusi bathin adalah pikirannya sendiri. Dan langkah evolusi bathin terpenting adalah bagaiman melampaui pikiran [berhenti didikte oleh pikiran] dan meniadakan ke-aku-an [nirahamkarah].

Bagaimana melampaui pikiran dan meniadakan ke-aku-an ? Sadar bahwa baik yang positif maupun negatif hanyalah refleksi [bayangan] dari persepsi pikiran kita sendiri.

Maharsi Patanjali dalam buku Yoga Sutra menulis : "Yoga citta vritti nirodha” [yoga adalah aktifitas menghentikan riak-riak pikiran].

Kesedihan, kemarahan, hawa nafsu, dll, muncul dari pikiran. Dari pengalaman dan hal-hal yang kita beri label negatif [tidak menyenangkan, menyakitkan, dll]. Begitu bayangan pikiran ini hilang atau pikiran teralih ke hal yang lain, maka dengan sendirinya semua emosi negatif tadi lenyap. Dia baru akan muncul kembali kalau bayangan pikiran kita kembali tertuju kepada pengalaman dan hal-hal yang kita beri label negatif tadi.

Kebahagiaan, kesenangan, suka-cita, dll, juga muncul dari pikiran. Dari pengalaman dan hal-hal yang kita beri label positif [menyenangkan, memuaskan, dll]. Begitu bayangan pikiran ini hilang atau pikiran teralih ke hal yang lain, maka dengan sendirinya semua emosi positif tadi lenyap. Dia baru akan muncul kembali kalau bayangan pikiran kita kembali tertuju kepada pengalaman dan hal-hal yang kita beri label positif tadi.

Ini berarti bahwa pembuat segala emosi dan perasaan [baik positif maupun negatif] kita adalah bayangan persepsi pikiran kita sendiri. Segala sesuatu pengalaman dan kejadian yang terjadi dalam hidup kita sejatinya adalah hal yang wajar dan alami di dalam hukum-hukum semesta [hukum rta dan hukum karma]. Dia tidak membawa kebahagiaan maupun kesedihan. Baik kebahagiaan maupun kesedihan, adalah produk dari riak-riak pikiran kita [permainan pikiran kita sendiri]. Begitu riak-riak pikiran kita berhenti, maka berarti berhenti pula baik kebahagiaan maupun kesedihan. Bukan berarti tidak berpikir, tapi berhenti didikte oleh pikiran. Bukan bahagia maupun sengsara, bukan puas maupun kecewa. Yang ada hanyalah kehidupan ini sebagaimana adanya, wajar dan mutlak. Disanalah ”sesuatu yang lain” akan muncul, yang disebut sebagai Atma Jnana.

Jalan dharma bukanlah tentang menjadi bahagia. Melainkan menjadi sadar bahwa tidak ada perbedaan antara mendapat pujian dan penghormatan orang dengan mendapat penghinaan dan pelecehan. Keduanya hanya didengar dengan penuh welas asih. Menjadi sadar bahwa tidak ada perbedaan antara mendapat kebahagiaan dengan mendapat kesedihan. Keduanya hanya dijalani dengan penuh welas asih. Yang bagus tidak menjadi akar kesombongan, yang jelek tidak menjadi akar kemarahan & permusuhan. Perasaan suka-tidak suka, sedih-bahagia, untung-rugi [semua dualitas] berhenti mensabotase realitas diri yang sejati.

Pikiran yang membanding-membandingkan, menilai, memilah-milah, adalah permainan pikiran yang menjadi sumber ledakan konflik-konflik batin. Realitas diri kita yang sejati terletak di atas segalanya ini. Hanya mereka yang memahami dan mengalami ini-lah yang dapat menyentuh Atma Jnana [kesadaran akan realitas diri yang sejati].

Note : Untuk dapat memahami hal ini, kita seyogyanya dalam keseharian selalu tekun berpikir positif [manacika] dan tekun hidup dengan welas asih dan kebaikan. Keduanya adalah pondasi dasar yang menentukan dari yoga. Kemudian langsunglah berpraktek meditasi.

http://hindu-nusantara.blogspot.com/2011/02/menata-ulang-pikiran.html

GAYATRI NYAASA

BUNDA GAYATRI.

Om Bhur Bhuvah Svaha
Tat Savitur Varenyam,
Bhargo Devasyadhimahi,
Dhiyoyonah Prachodayat.

"Oh Keberadaan Sejati,
Penguasa Ketiga Alam,
'ITU'-lah Yang Maha Bersinar patut untuk disembah,
Kepada Yang Maha Semarak Penuh Kejayaan dan Maha Bercahaya ini hamba bermeditasi,
Bimbinglah KESADARAN hamba."

(Rig Veda : 3 : 62 : 10)

Moksa - Pembebasan Sempurna

Sering kita mendengar istilah moksha, sebagai puncak dari ajaran Hindu. Tapi mungkin ada sebagian penganut Hindu yang tidak sepenuhnya paham apa itu moksha. Moksha secara literal dalam bahasa sansekerta berarti : pembebasan. Sedangkan moksha dalam ajaran dharma berarti pembebasan dari samsara [roda kelahiran yang berulang-ulang] beserta seluruh kesengsaraan yang diakibatkan oleh avidya [kebodohan, ketidaktahuan] di dalamnya. Realitas sejati kita adalah acintya [tidak terpikirkan], dalam kata-kata biasa bisa kita jelaskan sebagai maha damai, suci dan terang benderang. Tapi karena ke-aku-an dan kegelapan bathin, kita terjebak di dalam badan yang kotor ini.

Moksha sebenarnya adalah istilah bagi mereka yang sudah terbebaskan dan sudah meninggalkan dunia ini. Istilah moksha bagi yang masih hidup adalah Jivan-Mukti. Jiva berarti mahluk hidup, mukti berarti lepas / bebas. Jivan Mukti berarti mahluk hidup yang sudah terbebaskan.

Moksha dan Jivan-Mukti sejatinya tidak bisa dijelaskan, hanya bisa diketahui melalui pengalaman langsung [pratyaksa pramana]. Ketika sudah dialami-pun kita juga tidak bisa menjelaskannya. Itulah sebabnya Brhadaranyaka Upanishad menjelaskannya sebagai neti neti [bukan ini, bukan itu], karena memang tidak bisa dijelaskan. Tapi walaupun begitu, ada penjelasan-penjelasan yang mendekati yang bisa menjelaskan apa itu moksha dan Jivan-Mukti, walaupun tidak sepenuhnya tepat sempurna.

PENJELASAN TENTANG JIVAN-MUKTI

Pertama kita pahami dulu apa itu bebas secara sederhana. Coba amati kecenderungan-kecenderungan pikiran [vasana] kita. Pikiran kita berkata : aku ingin ini-itu, aku ingin begini-begitu, aku marah sama si A dan si B, aku lebih benar dari kamu, aku lebih hebat dari kamu, aku merasa sedih, aku merasa bahagia karena ini-itu, aku khawatir nanti begini-begitu, dll. Pikiran ini ribut sekali. Pikiran ini inguh [resah-gelisah]. Bathin ini berguncang. Ketika senang kita bahagia, ketika sedih kita larut dalam kesedihan. Ciri lain bathin yang berguncang adalah mengeluh, mengeluh dan mengeluh.

Sekarang kita bayangkan semua pemikiran-pemikiran tadi lenyap. Hening. Apa yang terjadi ? Bathin menjadi bersih sempurna, tenang-seimbang [upeksha]. Kita bersentuhan dengan intisari diri kita, intisari alam semesta dan intisari yang maha suci yang maha tidak terpikirkan, dimana yang ada hanya kedamaian dan kedamaian. Dalam ruang bathin seperti itu, kekhawatiran, kemarahan, kesedihan, ketakutan, keserakahan, dll, kehilangan cengkeramannya pada diri kita. Welas asih dan kebaikan bersemi.

1. Jivan-Mukti dalam penjelasan untuk orang biasa seperti kita.

Untuk orang biasa seperti kita, penjelasan paling mudah tentang Jivan-mukti -walaupun ini tidak sepenuhnya tepat- adalahnya lenyapnya seluruh sad ripu [enam kegelapan bathin] di dalam diri kita. Sederhananya : lenyapnya api iri hati, lenyapnya api kemarahan dan kebencian, lenyapnya api ketidakpuasan, lenyapnya api rasa takut dan rasa malu, lenyapnya api rasa curiga dan rasa khawatir, serta lenyapnya segala bentuk api-api emosi negatif lainnya. Semuanya lenyap. Ketika semuanya lenyap sempurna, yang tersisa dalam bathin kita hanya paramashanti [kedamaian sempurna].

Itulah penjelasan Jivan-mukti untuk orang biasa seperti kita. Siapa saja yang api sad ripu-nya sudah lenyap, dia tidak perlu melihat gunung dan pantai, tidak perlu pujian orang lain, tidak perlu dugem, tidak perlu punya mobil mewah, tidak perlu berlibur ke luar negeri, hanya untuk menjadi tenang dan bahagia. Karena mengapa ? Karena di dalam bathinnya sendiri sudah terang dan indah. Apapun yang terjadi dalam kehidupan, tidak menyentuh. Dalam Hindu disimbolikkan sebagai Bunga Padma [teratai], yang tidak basah oleh air.

Ciri luar orang yang sudah mengalami Jivan-mukti, dia banyak diam dan senyum-senyum saja. Walaupun tentu saja belum tentu orang yang banyak diam dan senyum-senyum saja adalah seorang Jivan-Mukta.

2. Jivan-mukti dalam penjelasan untuk para yogi yang sudah maju.

Untuk para yogi yang sudah maju, penjelasan tentang Jivan-mukti adalah Nirahamkarah [lenyapnya ke-aku-an]. Ini dijelaskan dalam berbagai buku vedanta, seperti misalnya pada Mundaka Upanishad dalam sloka berikut :

"Laksana sungai mengalir ke samudera, lenyap tanpa identitas dan bentuk. Begitulah mereka yang sudah sadar, lenyap dan terbebaskan dari identitas dan bentuk. Manunggal dengan dengan Brahman, lebih tinggi dari yang tertinggi."

Ketika ke-aku-an lenyap [nirahamkarah], kita menyatu rapi dengan segala yang ada. Kita bebas dari kecenderungan kepada prakriti [fenomena alam materi] menuju kecenderungan kepada purusha [realitas absolut]. Keheningan bathin yang sempurna. Maha damai, maha bahagia, maha suci, tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dipahami melalui pengalaman langsung [pratyaksa pramana].

Dan bagi para yogi atau bhakta yang serius, keheningan bathin yang sempurna sebagai puncak perjalanan, sebagai realitas absolut, haruslah digunakan sebagai konsep mendasar yang dapat membantu mengarahkan kemana seharusnya arah perjalanan bathin kita. Setelah itu silahkan ambil sadhana [praktek spiritual] yang kita rasa paling cocok dan sesuai untuk diri kita sendiri.

DUA MACAM MOKSHA

Kita sering mendengar kalau ada seorang Jivan-Mukta yang meninggal dan mengalami moksha, badan fisiknya lenyap. Ini tidak selalu terjadi demikian. Para Jivan-Mukta yang menempuh jalan Laya Yoga [Kundalini Yoga] dan Tantra [di Bali disebut jalan kawisesan], menggunakan divine energy [energi suci alam semesta], ketika dia meninggal [moksha] badan fisiknya lenyap. Ini karena ketika dia meninggal, energi suci [berupa api kundalini] membakar badan fisiknya sampai menjadi abu mikro, sehingga seolah-olah badan fisiknya lenyap.

Berbeda dengan para Jivan-Mukta yang menempuh jalan bhakti dan meditasi [raja yoga], yang tidak mengambil jalan kawisesan, ketika dia meninggal [moksha] badan fisiknya tidak lenyap. Hanya ke-aku-annya yang sudah lenyap sempurna [nirahamkarah]. Tapi kedua jalan ini sama-sama Moksha, amor ring acintya [manunggal dengan yang maha tidak terpikirkan].

Ketika seorang Jivan-Mukta meninggal [mengalami moksha], alam semesta biasanya ikut merespon. Bisa muncul bau harum, bisa muncul sinar, dsb-nya.

http://hindu-nusantara.blogspot.com/2010/10/moksa-pembebasan-sempurna.html