Selasa, 29 November 2011

Dua, Satu, Kosong

Seorang anak muda  bertanya ke pamannya tentang jenis usaha yang begitu dibuka, enam bulan kemudian langsung kaya raya. Sambil senyum-senyum penuh pengertian pamannya menjawab: “kalau ada sudah om ambil duluan!”.
Bila boleh jujur, demikianlah perilaku manusia kekinian. Semuanya mau serba cepat. Tatkala sekolah mau lulus cepat-cepat, begitu bekerja buru-buru mau naik pangkat, yang jadi pengusaha mau kaya dalam waktu singkat. Padahal, bila lulusnya cepat, naik pangkatnya cepat, terkena stroke dan matinya pun cepat.
Tidak elok bila bercerita kekurangan orang lain. Yang jelas alam sebagai guru bertutur, bila gunung tinggi maka jurangnya dalam. Di mana ada kelebihan yang menjulang tinggi di sana tersembunyi kekurangan yang mendalam. Sayangnya, tidak sedikit manusia yang hanya mau puncak gunung, serta menolak jurang.
Mau   kaya   selama-lamanya,  kepingin  duduk di atas seumur hidup, berdoa agar kecantikan tidak dibawa pergi oleh penuaan, suka dihormati tidak suka dimaki. Dan ternyata, tidak pernah ada kehidupan yang berwajah serba positif, serupa dengan tidak ada gunung tanpa jurang.
Sadar dengan wajah kehidupan seperti inilah, kemudian para bijaksana meninggalkan mimpi hidup berupa muda kaya tua bahagia. Dalam pengalaman para bijaksana, muda adalah waktu-waktu belajar dan bekerja. Kalau pun ada porsi doanya, sebagian lebih doa anak muda dilatarbelakangi sayup-sayup lirik lagu maju tak gentar membela yang bayar.
Bagi yang pernah melewati masa muda akan tersenyum-senyum malu menoleh ke belakang. Dulu, ketika umur masih kepala dua atau tiga, tenaga sedang kencang-kencangnya, nafsu untuk disebut lebih demikian menggeloranya, mata selalu menoleh bila ketemu wanita cantik, rasanya bila ada pekerjaan mengecat langit pun akan disanggupi dengan kata bisa. Maklum masih muda.
Ada orang tua bijaksana yang bercerita, kalau ia dulu mengira dirinya serupa dengan pesawat tempur yang lari melesat kencang di langit secara berwibawa. Bisa melakukan banyak hal-hal hebat. Namun ketika melewati banyak jatuh bangun dalam kehidupan, serta banyak jatuh sakit,  baru menyadari ternyata dirinya hanya sebuah sepeda motor tua. Namun sepeda motor tua yang bahagia.
Makanya  tetua  di  Jawa  punya  pesan indah dan menggugah. Puncak perjalanan kehidupan ketemu ketika seseorang mulai tahu diri. Dengan bekal ilmu tahu diri inilah kemudian sayup-sayup lirik lagu maju tak gentar membela yang bayar kemudian lenyap. Awalnya diganti dengan lirik lagu kemesraan ini janganlah cepat berlalu. Kemudian berubah  menjadi   lagu syukur. Dan ujung-ujungnya, tidak ada satu lirik lagu pun yang tersisa. Hanya hening, sepi, sunyi yang menyentuh hati.
Di salah satu pojokan kehidupan guru di dalam diri pernah berpesan, awalnya adalah dua (penyembah dan yang disembah). Ketulusan, keikhlasan dan kepasrahan kemudian membuat yang dua menjadi satu. Setelah lama tenggelam dalam kebersatuan, bahkan yang satu ini pun ikut menghilang. Untuk itu ada yang menulis: The best theologian is the one who never speaks about God. Theolog terbesar adalah mereka yang tidak pernah berbicara tentang Tuhan. Bukan karena ateis, apa lagi karena membenci Tuhan,  sekali lagi bukan!. Namun bila masih menyebut nama Tuhan artinya masih dua.
Perhatikan apa yang ditulis Ezra Bayda dalam At home in the muddy water: “The joy of relationship ultimately comes from effortlessly giving ourselves to others, like a white bird in the snow”. Beginilah keseharian manusia yang sudah meninggalkan angka dua sekaligus angka satu. Dulunya, suka cita memang datang dari kegiatan memberi sesuatu buat diri sendiri. Di tingkatan ini, suka cita adalah buah dari ketulusan untuk memberi pada pihak lain, persis seperti burung putih di salju: membantu namun tidak kelihatan!. Tidak kebayang indahnya kehidupan bila bisa sampai di sini. Dan baju luar orang jenis ini bisa petugas satpam yang membukakan pintu di kantor cabang bank, supir taksi di jalan raya sampai seorang pajabat tinggi. Namun ada yang sama di antara mereka, berbahagia dalam menolong, karena menolong sedang membuat manusia bergerak dari angka dua menjadi angka satu. Begitu menolong dilakukan terus menerus tanpa kebutuhan untuk dipuji atau disebut suci, angka satu ini pun lenyap dalam keheningan. Persis seperti burung putih di salju.

By Gede Prama.
http://gedeprama.blogdetik.com/2011/09/16/dua-satu-kosong/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar