Selasa, 29 November 2011

Keberuntungan Sejati

Di tahun 1920-an, peneliti Belanda datang ke Bali dan menemukan bahwa dalam kamus hidup orang Bali ketika itu tidak dikenal istilah kesenian sebagai pertunjukan komersial. Semua gerak kehidupan (bertani, mengukir, menari) dilakukan sebagai serangkaian persembahan. Makanya salah satu arti Bali adalah persembahan.
Tidak ada yang sempurna di bawah langit, kendati demikian Bali pernah digoda bom teroris. Terasa sekali penderitaan setelah itu. Namun, beberapa waktu kemudian tidak saja bangkit, malah berkali-kali dinobatkan sebagai pulau tujuan wisata terbaik di seluruh dunia oleh media global.
Bila boleh jujur, ada spirit yang bersemayam di balik karisma Bali yang kerap disebut the last paradise (surga terakhir) oleh masyarakat internasional. Dan spirit itu bertumbuh sebagai hasil percampuran antara agama dan seni selama ribuan tahun. Perpaduan keduanya, kemudian dipersembahkan sebagai serangkaian pelayanan.
Sehingga menjadi sumber inspirasi Indonesia yang masih menyimpan banyak lobang-lobang pelayanan, lebih-lebih tatkala nurani publik terlukai skandal korupsi, bila Bali bisa berkarisma dengan pelayanan sebagai hasil penggabungan antara agama dengan seni, kenapa Indonesia tidak bisa? Dalam agama dan seni, Indonesia kaya dengan nilai-nilai yang menjujung tinggi pelayanan.
Keberuntungan dalam pelayanan
Dulunya, hanya pedagang yang tekun mencari keberuntungan. Sekarang, ia merambah ke mana-mana. Rumah, tempat kerja, taman semuanya ditata sehingga keberuntungan datang dari segala penjuru.  Dan ukuran keberuntungan, apa lagi kalau bukan kekayaan. Ini tentu saja layak dihormati. Masyarakat Barat sudah berjalan jauh di depan dalam hal kekayaan.
Namun, Kemajuan ala Barat ini memakan biaya mahal. Baru di zaman ini terjadi banyak rumah sakit jiwa penuh, sebagian pasien yang belum sepenuhnya sembuh terpaksa dipulangkan karena ada pasien baru yang lebih parah dan lebih membutuhkan.  Lembaga pemasyarakatan kehabisan ruang untuk menampung nara pidana, sebagian remisi terpaksa diberikan karena ruang yang ada sudah tidak manusiawi.  Angka perceraian menaik tajam. Keadaban manusia tidak berhasil mengerem perang dan terorisme. Seorang guru dari Timur pernah menginap di salah satu rumah orang super kaya di AS. Rumahnya tentu super mewah, namun yang mengejutkan, di kamar mandi tersedia pil tidur dalam jumlah berlimpah. Rupanya, semakin kaya seseorang bukannya semakin mudah tidurnya.
Contoh   termutahir  di  negeri  ini  adalah  dibukanya   rekaman  percakapan berbagai pihak yang mau membubarkan Komisi Pemberantasan Korupsi.  Terlihat jelas, bagaimana nafsu berlebihan akan kekayaan bahkan bisa menghancurkan seluruh tatanan hukum sebuah negara. Dalam totalitas, tidak ada yang melarang mengejar kekayaan, namun karena demikian besarnya ongkos nafsu berlebihan akan kekayaan, mungkin layak merenungkan ulang pengertian tentang keberuntungan.
Tetua di Timur telah lama mengenal kearifan tentang kucing yang mengejar ekornya. Semakin dikejar semakin lari. Dan tatkala tidak dikejar, ia berhenti. Dalam bahasa Franz Kafka: the meaning of life is that it stops. Makna kehidupan baru terbuka ketika manusia belajar berhenti. Anehnya, ketika berhenti bukan kehilangan makna, malah menemukan. Ini yang bisa menjelaskan kenapa ada guru meditasi menyarankan, kehidupan serupa air di gelas. Setenang apa pun tangannya, bila air di gelas dicoba ditenangkan dengan cara memegangnya, ia tetap bergerak. Untuk itu, letakkan saja!.
Saran letakkan saja ini tentu bukan berarti semua harus meninggalkan kota pergi ke hutan, atau semua orang duniawi harus meninggalkan kesehariannya untuk bermeditasi. Sekali lagi bukan. Namun meletakkan keinginan berlebihan bahwa hidup harus selalu sesuai dengan tuntutan ideal. Untuk kemudian mendalami ternyata keberuntungan tidak saja ada dalam tujuan-tujuan ideal, melainkan juga tersedia dalam setiap langkah pelayanan. Pertumbuhan tidak saja memerlukan kehebatan hasil, juga merindukan kelembutan proses.
Siapa saja yang diberi berkah spiritual untuk bisa melihat Nusantara dalam-dalam, lebih-lebih di putaran waktu ketika negeri ini mau runtuh oleh skandal korupsi, akan menitikkan air mata ketika mengetahui bahwa Mohammad Hatta, salah satu proklamator, ternyata mengisi hidupnya di jalan pelayanan. Di sebuah jumat, istrinya mengatakan kalau tabungan baru cukup untuk membeli mesin jahit. Dan karena kesibukan, akan ke toko hari senen. Pak Hatta tahu kalau senen berikutnya tabungan itu tidak akan cukup, karena beliau sendiri yang akan mengumumkan kebijakan pemotongan uang hari senennya. Namun karena meletakkan kepentingan publik di kepala, kepentingan pribadi di kaki, Pak Hatta diam seribu bahasa. Serupa dengan Mahatma Gandhi dan Bunda Theresa, mereka yang mengisi hidupnya dengan pelayanan, semakin lama bukannya semakin redup, malah semakin bercahaya.
Bercermin dari sini, seorang guru menulis: The joy of life ultimately comes from effortlessly giving our selves to others, like a white bird in the snow. Dalam kehidupan para bijaksana, suka cita datang dari ketulusan untuk terus menerus memberi. Persis seperti burung putih di salju. Menyediakan tangan bantuan namun tidak kelihatan. Dalam perspektif ini, bisa dimengerti bila salah seorang penekun meditasi di Barat setelah mengalami pencerahan kemudian bukannya mengenakan baju suci, namun menjadi supir taksi. Inilah keberuntungan sejati: tercerahkan, kemudian melakukan tugas pelayanan dan tidak kelihatan.
Mungkin itu sebabnya di negara maju pekerja birokrasi tidak disebut pegawai negeri melainkan pelayan publik. Melayani, itu dan hanya itu alasan birokrasi  dan profesi dibentuk. Melayani, itu dan hanya itu tugas manusia yang tercerahkan. Dan tugas pelayanan menjadi menggetarkan bila ada yang bisa membaca pesan suci di balik kisah burung putih di salju.  Andaikan banyak pemimpin, pendidik, penyembuh, praktisi hukum negeri  ini yang tergetar hatinya dengan kisah burung putih di salju, terterangi batinnya oleh roh pelayanan pulau Bali, tidak terhitung banyaknya kemiskinan yang bisa diusir dari Nusantara. Tidak terhitung banyaknya bunuh diri, depresi, kriminalitas, perceraian dan penyakit sosial lainnya yang bisa dihindarkan. Sekaligus berhenti menyebarkan virus negatif yang membuat alam terus menggoda dengan bencana. Dan yang paling penting, hanya dengan melayani kejujuran maka luka publik mungkin terobati.

http://gedeprama.blogdetik.com/2011/11/26/keberuntungan-sejati/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar