Selasa, 29 November 2011

Renungan Akhir Tahun 2010: Spa yang Mempercantik Jiwa

Indonesia berduka, mungkin itu ungkapan tepat buat bangsa ini di akhir 2010. Tatkala kemiskinan belum  terselesaikan, pengobatan mahal, pendidikan jauh dari jangkauan masyarakat kebanyakan, elit belum satu bahasa dalam melangkah, politisi miskin empati, korupsi menyentuh hati, alam malah menelan banyak nyawa manusia melalui banjir, tsunami, letusan gunung. Sehingga memunculkan keraguan, bila di tanah subur bernama Indonesia, kesedihan menghempas demikian ganasnya, apa yang terjadi di tempat-tempat minus seperti Afrika?
Menggali ke dalam

Bagi setiap sahabat yang datang ke kantong kesedihan berbekalkan kepekaan, terlalu banyak stok air mata yang dibutuhkan untuk menangisi penderitaan. Anak-anak banyak yang terlahir membawa penyakit aneh-aneh, orang tua semakin banyak yang ditinggalkan oleh kesibukan anak-anaknya, warga lembaga pemasyarakatan tidak saja teramat sakit oleh siksaan hukum malah lebih sakit lagi oleh cacian masyarakat, belum lagi bila ditambah dengan tersentuhnya hati melihat teramat banyak pengungsi.
Mengeluh, protes, melawan keadaan memang dilakukan banyak orang. Namun, seperti tenggelam di lumpur rawa-rawa yang dalam, semakin melawan semakin tenggelam. Terinspirasi dari sini, sebagian pencari kemudian belajar berhenti melawan, mencoba untuk menemukan cahaya di balik kegelapan kesedihan.
Jepang adalah sebuah guru. Setelah dua kotanya hangus oleh bom atom, kemudian memulai perjalanan peradaban yang jauh dari nafsu berlebihan akan peperangan. Nelson Mandela adalah secercah cahaya. Kendati tenggelam dalam kesedihan dan ketidakberdayaan karena dipenjara selama dua puluh tujuh tahun, kemudian tidak punya pilihan lain selain memeluk lembut keihklasan. Mahatma Gandhi adalah sebuah lentera. Tatkala penderitaan bangsanya menghadang, ia mengorbankan segalanya untuk sebuah perjuangan tanpa kekerasan.  Ada yang sama dari semua cerita ini, tidak saja kekerasan memecahkan masalah, kelembutan juga membawa manusia keluar dari terowongan panjang kegelisahan.
Pernah terjadi dialog antara seruling dan bambu. Karena seruling dikagumi, bambu kemudian cemburu. Dengan lembut seruling mengungkapkan bahwa dulunya ia juga bambu. Namun, melalui serangkaian rasa sakit yang tajam dan mendalam seperti dipotong golok sampai dilobangi pisau, kemudian ia bisa mewakili keindahan dengan suara menawan.
Meminjam cerita indah Thich Nhat Hanh, suatu hari ada air yang terperangkap lama dan dalam di pegunungan. Hujan deras kemudian membuatnya  bisa menyatu dengan air sungai. Betapa gembiranya ia menjadi sungai, terutama karena bisa memantulkan awan. Seperti menemukan kekasih yang amat dicintai, demikian perasaan air. Cuman, karena sifat awan datang dan pergi, air tadi kemudian dilanda kesedihan mendalam ketika awan menghilang.
Sebagaimana kesedihan lain, kesedihan air ini kemudian membuatnya merenung. Dan di puncak renungannya menemukan, ternyata di dalam diri air sudah tersedia awan. Dari sini air tidak saja keluar dari cengekeraman kesedihan, malah mengalami pencerahan. Terutama dengan mengalami langsung hakekat kehidupan yang serba terhubung.
Bila boleh jujur, cerita air ini adalah cerita kita semua. Pertama, banyak manusia mengira sumber kebahagiaan dan kedamaian ada di luar sana. Dan mereka yang pernah mengalami tahu, harta serupa awan, ada saatnya datang ada saatnya menghilang. Kedua, tatkala digoda kesedihan terpaksa menggali ke dalam. Dan ternyata ada cahaya di dalam. Kebahagiaan hanya menawan kalau pernah melewati kesedihan. Ketiga, sesampai di sini tiba-tiba muncul cahaya kasih sayang.
Membuka jendela

Bila demikian cara memandang kesedihan, Indonesia berhenti berwajah sebagai negara yang penuh bencana, Indonesia berubah menjadi spa yang mempercantik jiwa. Serupa dengan spa sesungguhnya yang membuat wajah menjadi semakin cantik dan simpatik, Indonesia sedang membuat jiwa warganya menjadi cantik sekaligus simpatik.
Cuman, serupa cahaya matahari, Indonesia bisa menerangi mereka yang membuka jendela jiwanya. Protes tidak saja menutup rapat-rapat jendela jiwa, malah menjauh dari sumber cahaya. Setiap sahabat yang membuka jendela jiwanya tahu, kesedihan hanya gerbang spiritual yang terbuka.
Mungkin itu sebabnya Jalaludin Rumi tidak punya kegiatan lain terkecuali menggali ke dalam. Fisikawan Fritjof Capra menyebut penemuannya dengan The hidden connections. Dalam kesedihan orang ada kesedihan kita, dalam kebahagiaan tetangga ada kebahagiaan kita. Dan mudah dimaklumi, bila YM Dalai Lama berulang-ulang berpesan: “Bila Anda mau berbahagia laksanakan kasih sayang, jika Anda ingin orang lain berbahagia laksanakan kasih sayang”. Karena kasih sayang menyembuhkan, mendamaikan, menghubungkan.
Sehingga di ujung cerita spa yang mempercantik jiwa, mungkin layak bertanya ulang ke dalam, dalam arsitektur spiritual Indonesia, seberapa banyak diantara kita sudah menggali ke dalam, berjumpa cahaya, dan kemudian dipangku oleh kasih sayang?

By, Gede Prama.
http://gedeprama.blogdetik.com/2010/12/27/renungan-akhir-tahun-2010-spa-yang-mempercantik-jiwa/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar